oleh

Terkait Pengakuan Eks Warga Binaan Ditelanjangi, Disuruh Minum Air Seni Hingga Disuruh Onani, Ini Komentar Gusti Ayu.

-Berita, Hukrim, Nasional-147 Dilihat

Ket foto (Dok. Kemenkumham):Gusti Ayu Putu Suwardani, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham DIY

 

Laporan Reporter SUARA TTS .Com

SUARA TTS .COM | SOE – Gusti Ayu Putu Suwardani, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham DIY angkat bicara terkait pengaduan sejumlah mantan warga binaan Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta yang mengaku, disiksa, ditelanjangi, disuruh minum air kencing hingga disuruh onani oleh petugas Lapas.

Gusti Ayu mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan investigasi terkait pengaduan tersebut. Selain dari Kanwil, pihak Ombudsman, Komnas HAM termaksud tim inspektorat jenderal juga tengah mendalami dugaan penyiksaan tersebut.

” Kita masih mendalami Laporan tersebut. Kita tidak akan menutup-nutupi fakta yang ada. Tapi sejauh ini kita masih melakukan investigasi,” ujar Gusti Ayu kepada Nadjwa dalam acara mata Najwa, Kamis 18 November 2021.

Diakuinya, pengaduan tersebut menjadi bahan evaluasi pihaknya untuk berbenah agar menjadi lebih baik. Namun dari hasil investigasi sejauh ini, dari hasil wawancara dengan pihak petugas Lapas, baru ditemukan adanya kasus pemukulan.

Namun pemukulan tersebut dilakukan secara bertahap. Mulai dari membentak terlebih dahulu, karena tidak mempan lalu dikasih hukuman disiplin tetap tidak mempan, maka ada petugas yang memukul warga binaan.

Terkait dugaan adanya warga binaan yang ditelanjangi, disuruh makan pepaya busuk, disuruh minum air kencing dan disuruh onani, diakuinya belum ditemukan pihaknya sejauh ini.

” Kalau hasil investigasi sejauh ini kita baru temukan adanya pemukulan. Kalau yang lain-lain kita belum dapati. Tapi investigasi masih terus kita lakukan,” terangnya.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi mengatakan, pada tanggal 4 November lalu pihaknya telah bertemu dengan Menteri Hukum dan Ham RI.

Salah satu agenda yang disampaikan kepada Pak Menteri adalah dugaan penyiksaan yang terjadi di dalam Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta.

Menurutnya, Pak Menteri juga mengetahui problem yang dialami di dalam penjara dan akan mengambil tindakan.

Korban dan terlapor dalam kasus tersebut dikatakan Edwin, harus mendapatkan perlindungan dan

tidak boleh dituntut pidana maupun perdata.

” Apa yang disampaikan oleh para korban adalah evaluasi untuj pihak kementerian Hukum dan HAM sehingva tidak boleh ada upaya kriminalisasi terhadap mereka,” pintanya.

Diberitakan sebelumnya, Mantan warga binaan Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta menceritakan kisah penyiksaan yang tidak manusiawi saat menjalani masa hukuman dalam acara Mata Najwa, Kamis 18 November 2021. Mulai dari dipukuli, makan pepaya busuk, disuruh mengkonsumsi air kencing, hingga ditelanjangi dialami oleh warga binaan kasus Narkoba.

Siksaan tersebut, tidak hanya meninggalkan bekas luka, tapi juga meninggalkan troma yang mendalam.

Vincentius Titih Gita Arupadatu, mantan warga binaan menceritakan, sejak awal masuk ke dalam Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta pada 26 April, dirinya sudah mengalami penyiksaan.

Dirinya disuruh membuka pakaian lalu dihajar menggunakan selang. Tak hanya itu, ia bersama warga binaan baru lainnya disuruh mengkonsumsi pepaya busuk. Tak hanya dagingnya, kulit dan biji pepaya pun harus ditelan.

Karena tidak kuat menelan pepaya busuk tersebut, dirinya memuntahkan kembali pepaya tersebut.

Oleh petugas Lapas, ia disuruh untuk memakan kembali muntahan tersebut.

” Muntahan pepaya busuk itu, harus saya makan kembali. Saya tidak mengambil muntahan itu menggunakan tangan, tapi disuruh langsung menggunakan mulut,” kisah Vincentius yang membuat Nadjwa geleng-geleng Kepala.

Kisah Vincentius ternyata belum seberapa. Kisah yang lebih tragis dialami Yunan Efendi. Karena ketahuan membawa handphone, ia dibawa ke ruang registrasi untuk disiksa oleh petugas Lapas.

Awalnya, ia disuruh untuk melepaskan seluruh pakaiannya. Ia lalu mengikuti dua kali tes urine, dan hasilnya negatif.

Walau hasilnya negatif, Yunan tetap disiksa oleh kurang lebih 15 petugas lapas. Awalnya, ia dipukuli dan diinjak-injak oleh petugas Lapas.

Tak puas, petugas Lapas lalu menyuruhnya untuk meminum air kencingnya (urine), namun ditolak. Karena ditolak, ia lalu kembali mengalami penyiksaan.

Petugas Lapas lalu menyuruhnya untuk mencuci mukanya dengan menggunakan air kencing namun kembali ditolak hingga ia kembali disiksa. (DK)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.