oleh

Setia Melayani Di Tengah Kesukaran

-Berita, Opini-1031 Dilihat

Oleh: Glory Manao-Weo

Penulis adalah Vikaris di Jemaat GMIT Betel Oefafi-Klasis Kupang Timur, Kec. Kupang Timur Kab. Kupang

SUARA TTS.COM – Manusia adalah makhluk yang dibentuk oleh harapan, sehingga dengan demikian cara kita menjalani hidup sekarang sangat dikendalikan atas apa yang kita percayai untuk masa depan.

Dalam bukunya Where is God when is Hurts, Dimanakah Tuhan Disaat Kita Menderita buku ini menyatakan bahwa “ penderitaan adalah suatu alarm kondisi kehidupan manusia yang telah rusak. Sesuatu yang salah telah terjadi dimuka bumi ini baik peperangan, kekerasan, tragedi manusia, seseorang yang merasa puas dengan dunia ini yang percaya bahwa tujuan utama hidup adalah kenikmatan, maka ia harus menyumbat telinganya dengan kapas karena megafonnya berterikan keras.

(Philip Yancey, 2000: 80). Dimanakah Allah disaat kita mengalami penderitaan, kesulitan, kesesakan? Pertanyaan ini sering dipertanyakan orang-orang yang berada dan mengalami kondisi tersebut. Mengapa Allah membisu disaat kondisi demikian? Apakah Allah hanya memantau dari jauh saja? Pertanyaan logika ini terkadang bisa membuat seseorang ragu terhadap keberadaaan Allah. Bila mendengar kata penderitaan, kesulitan, kesesakan maka alur berpikir seseorang akan membayangkan suatu keadaan yang tidak menyenangkan, karena itu setiap orang pasti akan berusaha untuk menghindarinya.

Wilayah penderitaan dan kesukaran hanya bisa dibalutkan bersama Allah, situasi ini membuat manusia terbuka dihadapan Allah. Penderitaan, kesukaran menelanjangi manusia dari kepura-puraan kehidupan.

Tidak ada manusia yang mau menderita dalam kepura-puraan (kecuali dalam sebuah film atau sinetron, ada pemeran/ figure yang bisa memerankan karena tuntutan skenario). Kesulitan hidup dalam penderitaan, kesesakan bahkan kesukaran dapat membuat seseorang memberontak terhadap Allah, namun disamping itu juga dapat membuat seseorang menemukan diri sendiri dalam pelukan Allah. Kalau kita mau jujur dan jikalau mau memilih hidup yang bebas dari penderitaan, kesulitan, kesukaran, ingin sehat, kita ingin agar hidup berjalan mulus, pelayanan tanpa hambatan. Tidak pernah sedikit pun diantara kita yang membayangkan untuk hidup dalam kekurangan, sakit penyakit, usaha yang gagal, pelayanan mulus tanpa tantangan.

Namun pertanyaannya adalah apakah kehidupan senantiasa berjalan seperti yang kita harapkan? Jawabannya, tidak! Namun ada pertanyaan penting yang diajukan adalah: “ Bagaimana supaya kuat dalam menghadapi penderitaan” Dan bagaimana seorang yang diikut serta dalam barisan pelayanan tetap setia melayani meskipun ditengah kesukaran?

Dalam kitab Perjanjian Baru kurang lebih ada tiga belas surat yang dimulai dengan nama Paulus ( Surat Paulus kepada jemaat di Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon,) hal ini menunjuk pada identitas Paulus sebagai penulisnya.

Surat paulus ini juga mempunyai ciri khusus antara penulis dan penerima surat. Kitab 2 Korintus 6 adalah bagain dari surat Rasul Paulus yang kedua di jemaat Korintus. Rasul Paulus dalam kehidupan pelayanan tetap membina relasi yang mengakar antar jemaat dimana suratnya ditujukan kepada jemaat itu.

Dalam (ayat 4-10) Paulus dan rekan sekerjanya telah membuktikan integritas mereka sebagai pelayan Allah yang setia melayani dalam segala keadaan meskipun kesulitan mengiring perjalanan pelayanan mereka. Sikap ini tentu memberi keteladanan kepada jemaat yang berada di Korintus untuk bertindak melakukan hal yang sama seperti yang telah diteladani.

Jika kita membuat daftar orang menderita ditengah kesukaran kemelut pelayanan dan hidup yang paling terkenal di Alkitab maka selain Ayub di Perjanjian Lama maka ada Paulus di Perjanjian Baru.

Saat Paulus dipanggil menjadi pelayan maka Allah berkata tentang dia “orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain; Aku sendiri akan menunjukan kepadanya betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kis 9:15-16).

Rasul Paulus ada dalam barisan pelayanan yang dilakuakn bersama dengan Timotius. Dalam teks bacaan 2 Korintus 6:1-10 menjelaskan sebagaimana Paulus dalam pelayanannya yang harus menghadapi kondisi dan situasi dalam pelayanannya yang harus menanggung penuh dengan kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran tetapi dalam keadaan dan situasi itulah membuat Paulus menjadi kuat oleh karena ia memiliki daya kekuatan ilahi diluar dirinya yang berasal dari yang dari Allah, walaupun ia menghadapi berbagai rintangan, tantangan dalam pelayanannya, Paulus tetap komitmen bahwa ia menjadi pelayan karena Yesus Kristus (band; 2 Korintus 4:1-6). Oleh karena itu, ia tidak memberitakan dirinya sendiri, tetapi memberitakan Yesus Kristus sebagai Tuhan. Oleh karena pemberitaan itulah, ia mengalami penderitaan.

Paulus memberikan penjelasan bagi setiap orang percaya bahwa penderitaan itu tidak akan menjadi sia-sia oleh karena Kristus. Dalam teks bacaan (ayat 4) Kata pelayan dalam bahasa Yunani menggunakan kata diakonoi (Diakonoi) dari kata “διακονος” (diakonos), disini Paulus menjelaskan dirinya sebagai hamba-hamba Allah, seorang pelayan atau utusan-utusan Tuhan untuk menjadi pemberita injil.

Kata “Allah” dalam bahasa Yunani yaitu (theos) Paulus kembali menjelaskan bahwa sebagai pelayan harus siap menanggung segala penderitaan karena hanya di dalam Dialah kita memperoleh kemegahan. Kata pelayan menunjukkan bahwa pelayan itu status kepemilikannya adalah Allah, sehingga dalam hal ini Paulus dalam melakukan pemberitaan maka injil Tuhan menjadi tujuan pemberitaannya.

Penderitaan demi injil adalah tanda utama dari kerasulannya, sebab kasih karunia bekerja melalui kelemahan manusia, meskipun terdapat kelemahan manusia dimampukan untuk menahan dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Kata “kesabaran” dalam bahasa Yunani hupomonēi artinya ketekunan, kesabaran, ketabahan, ketahanan. Kata ini ditulis dalam bentuk kata benda keterangan obyek kata ini menunjukkan pada suatu kata benda yang menunjuk pada sasaran tunggal dapat diartikan bahwa kesabaran itu merupakan suatu hal yang harus mereka jalani, yang menunjuk pada suatu ketenangan dalam mengahadapi suatu persoalan karena itu sudah menjadi bagian dari hidup Paulus dalam melakukan pelayanan atau pemberitaan injil.

Kata “Penderitaan” ditulis dalam bahasa Yunani (thlipsesin) dari akar kata (thlipsis) penindasan, penderitaan, kesengsaraan. Ini merupakan kata benda yang ditunjukan pada objek langsung yaitu Paulus dan Timotius.

Kata penderitaan ini menunjuk pada diri mereka sendiri bahwa penderitaan, kesengsaraan, gangguan itu memang tidak dapat dipisahkan dalam bentuk apapun tekanan yang dialami oleh Paulus dalam bentuk penderitaan kesengsaraan yang menekan hidupnya dalam pelayanan namun justru semakin kuat sebab Paulus tau kepada siapa ia melayani dan melakukan pekerjaan ini yaitu pemberitaan Injil. Dalam teks bacaan ”kami mengalami kesukaran” kata “kesukaran” ditulis dalam bahasa Yunani στενοχωρια (stenochoria) kesulitan, kesukaran, terdiri dari akar kata στενος (stenos) yang berarti kesukaran.

Jadi kata kesukaran ini merupakan kata yang benda yang menunjuk pada diri Rasul Paulus, tetapi kesukaran yang dialami oleh Paulus tidak dapat membinasakan dan menghancurkan dirinya karena ia memiliki pandangan arah tujuan hanya kepada Kristus.

Dalam teks (ayat 7) kata “menyerang” ditulis dalam bahasa Yunani (dexiȏn) “right” kanan. Dari akar kata (dexios) kanan (senjata), di sebelah kanan (untuk menyerang), (tangan kanan Allah), berarti kuasa-Nya, tempat yang terhormat. Paulus telah diberi kekuatan untuk menyerang dan membela kebenaran yang dari Allah.

Kata menyerang ini merupakan kata benda yang menunjukkan pada kata sifat, (dexion) “right” kanan. Kata kanan ini juga sering diartikan sebagai tangan kanan Allah yang memberi kekuatan untuk menyatakan kebenaran, kata kanan ini juga sering diartikan sebagai pelaksana tugas sebab ia memiliki kekuatan untuk melaksanakan tugas dalam pemberitaan injil untuk menyerang setiap maupun menghadapi tantangan yang dialami dalam lapangan kekuatan ilahi dari Tuhan. ”Memperkaya Banyak Orang ” (ayat 10) ditulis dalam bahasa Yunani (ploutizontes) dari akar kata (ploutizo) merupakan kata kerja yang menjadi kata sifat yang sedang dilakukan secara aktif yang dikerjakan oleh Paulus sendiri yang bertujuan untuk memperkaya banyak orang secara rohani melalui pelayanan khususnya jemaat-jemaat Allah yang ada di kota Korintus.

Dalam teks bacaan 2 Korintus 6:1-13 ini terdapat delapan kata yang menunjukan kata antonim-berlawanan dengan kata lain menggambarkan bagaimana manusia menilai manusia (manusia jaman itu menilai pelayanan Paulus).

Dalam penilaian tersebut ada resiko yang bernada positif tapi juga ada resiko yang bernada negatif. Paulus menghadapi semuanya perkataan penuh kontras itu bukan karena ia bersalah, bukan karena ia mau mencari ketenaran diri dalam keberhasilan pelayanan, namun Ia tunduk pada otoritas Ilahi yang memakainya menjadi alat ditangan Tuhan dalam melaksanakan karya panggilannya.

Penderitaan yang dialami oleh Paulus merupakan penderitaan yang sungguh tidak dapat membinasakan tubuh maupun hidupnya secara jasmani karena oleh karena Paulus memiliki daya kuat yang bersumber dari Allah sehingga ia dengan teguh menghadapi penderitaan yang akan terjadi dalam hidupnya. Ia tahu bahwa penderitaan yang dialaminya hanyalah penderitaan ringan yang dapat membawa hidupnya untuk memperoleh kemuliaan kekal yang jauh lebih besar dari penderitaan yang ia alami dalam hidupnya. Untuk itulah Paulus tetap tekun dalam kesetiaannya untuk melayani Tuhan.

Didalam musim kehidupan jika Allah hadir dalam waktu-waktu tersulit kita maka seluruh hidup bagaimanapun sepele atau sulitnya dapat membuat kita terbuka bagi pekerjaan Allah diantara kita. Ada masa dimana manusia itu berproses menjalani hidupnya sejak mulai ia dilahirkan, bertumbuh, semua itu ada dalam rentetan waktu dan tidak selalu mulus ada saja rintangan, kesukaran, tantangan, silih berganti menghampiri kehidupan kita namun pada kenyataannya adalah bahwa penderitaan dalam rupa kesukaran itu selalu dijauhi oleh semua orang, tidak ada satu pun manusia yang menginginkan hidupnya menderita atau hidup susah, itulah sebabnya banyak orang berusaha untuk menjauhkan dirinya.

Kesukaran ini juga dijauhi karena hal ini tidak menyenangkan bagi fisik bahkan batin manusia, hal ini sungguh nyata dalam bentuk penderitaan, kekurangan, kelemahan, kehancuran, penolakan terhadap diri dan lain sebagainya. Bahkan cara merespon beragam, ada dengan mengeluh, bersungut-sungut bahkan tidak segan-segan mempersalahkan Tuhan tetapi ada juga yang meresponnya dengan membawa dirinya semakin dekat kepada Tuhan, melalui kesukaran hidup (penderitaan) juga adalah sebagai bagian konsekuensi kesetiaan iman kita.

Pelayan yang setia banyak mengalami kesulitan-kesulitan yang besar dalam pelayanannya dan dalam situasi ini membutuhkan kesabaran dalam menghadapi pergumulan tersebut. Mereka yang telah memberi diri kepada Tuhan, tubuh mereka juga terdiri dari jiwa roh dan daging, mereka juga memiliki kesediaan, kesetiaan untuk menanggung masalah dan juga dalam kedamaian, tidak hanya dalam melakukan pekerjaan Allah dengan tekun, tetapi juga seorang pelayan Kristus harus siap menderita.

Memberi diri seutuhnya menjadi seorang pelayan merupakan suatu tindakan kerelaan menjadi alat ditangan Tuhan untuk melanjutkan segala apa yang perintahakan oleh Tuhan baik atau tidak waktunya. Memang tak dapat dipungkiri bahwa penderitaan kesukaran adalah bagian dari realitas kehidupan. Kristus menderita untuk manusia maka sudah sepatutnya tiadak ada alasan terkuat untuk menghindarkan diri dari ikatan kasih Kristus, sekalipun penderitaan merupakan bagian perjalanan ziarah dalam kehidupan pelayanan namun jangan biarkan kita menjauhi dan memberontak terhadap Allah atas penderitaan yang dialami. Untuk menjadi seorang pelayan Tuhan yang ideal harus siap memikul salib setia melakukan pelayanan ditengah kesukaran, namun pada akhirnya ada mahkota yang disediakan Tuhan bagi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya.

Oleh karena penderitaan dan kesukaran tidak dapat dihindari dalam rangkaian perjalanan pelayan yang setia maka Firman ini Tuhan memberikan pesan bagi kita diantaranya; Pertama, Tidak ada keputusan tanpa resiko apalagi dalam memberitakan kabar baik dalam pelayanan, namun tetaplah setia melayani di jalan kesukaran untuk mewartakan kebenaran bahwa tidak ada persimpangan dijalan kebenaran karena itu kebenaran tetap berada di jalan lurus meskipun melalui situasi pelayanan yang penuh dengan kesukaran dan penderitaan ini adalah cara disiplin Allah untuk memproses seseorang menjadi seperti yang diinginkanNya.

Kedua bertahanlah dalam ketabahan atau ketekunan adalah sebuah kebajikan kristiani yang sangat luhur dalam buku Labirin kehidupan dijelaskan bahwa Alkitab memakai kata hupomone sebanyak 31 kali untuk ketabahan(to keep on keeping on). Namun sikap bertahan ini bukanlah sebuah kesabaran yang pasif sembari menanti persoalan yang akan usai dengan sendirinya, seiring dengan berjalannya waktu. Ketabahan adalah sebuah sikap aktif yang bersedia berjalan maju dan memperjuangkan apa yang kita yakini sebagai kebenaran.

(Joas Adiprasetya, 2016. 14-15). Ketiga Sebagai pelayan yang melayani ditengah kesukaran maka kita perlu mengakar iman kita kepada Allah. Jangan menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang telah kamu terima karena itu pergunakanlah waktu itu dengan baik, sebab kesempatan memberitakan Injil adalah perintah Tuhan Yesus sekalipun penderitaan dan kesukaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pewartaan tersebut, tetaplah bersukacita dalam pekerjaan Tuhan kerjakanlah dengan segenap hati bukan setengah hati, bukan dengan bersungut-sungut.

Sebab Tuhan akan menolong pada waktu perkenanan itu. Keempat Penderitaan juga merupakan “sekolah iman” sebab hanya melalui kesukaran, kesulitan maka kita akan dibawa ke akhir diri kita untuk tetap mempercayakan seluruh hidup kita kepada Allah. Paulus menulis dalam Roma 5: 3-4 bahwa kesengsaraan kita menghasilkan ketabahan dan kemudian karakter.

Paulus juga menulis bahwa “Aku yakin bahwa penderitaan jaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” Kelima Adanya komitmen diri untuk setia dan tekun melayani melibatkan Tuhan dalam pekerjaan pelayanan setia melayani sekalipun dalam kesukaran dengan tetap berpegang pada Allah dengan menggunakan senjata keadilan, yaitu senjata-senjata dari Allah, bunuh lah segala keinginan duniawi dan biarkan Tuhan mengisi hidup kita.

Ingatlah bahwa disetiap peristiwa kehidupan kita rangkulan Allah justru paling kuat dan mampu menembus situasi dan keadaan tersulit sekalipun untuk memberikan pintu-pintu pengharapan ketika berada ditengah-tengah kesulitan, kesukaran, penderitaan.

Kemenangan kita tersembunyi dalam kesukaran dan penderitaan, jika kita berpaling kepada Allah tidak menolak kesulitan-kesulitan itu maka sesungguhnya kita mengizinkan Allah mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik. Tetaplah setia di tengah kesukaran. Kamu akan dibenci semua orang karena namaku.

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahanya akan selamat. Selamat berselancar dalam badai penderitaan dan ditengah kesukaran pelayanan bersama Tuhan dan menarilah diatasnya sehingga ombak dan gelombang yang ditakuti pun mampu di kendalikan bersama Dia (Baca; Tuhan) Sang pemberi kekuatan. Amin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.