oleh

MENANG TERHADAP COBAAN

-Berita-130 Dilihat

Bacaan LUKAS 4: 1-13

Oleh : Glory E.A.P Manao – Weo, S.Si Teol. GMIT Betel Oefafi,Kupang Timur.

SUARA TTS .COM | SOE – Pengenalan kita terhadap Tuhan dapat melalui pengalaman pribadi dan juga melalui buku atau “Alkitab” yang memuat kesaksian kebenaran.

Jika pengenalan itu berdasarkan pengalaman pribadi maka dapat dirujuk dengan apa yang Bernard Lonergan sebut sebagai (unrestricted act love) “aktus kasih tak terbatas” pengalaman kasih tak terbatas ini menjadi salah satu sumber pengalaman pribadi akan Allah.

Disamping itu pula orang bisa mengenal Tuhan dengan manifestasi kasihNya yang ditulis dalam Kitab Suci. Pengenalan seseorang akan Tuhan bertumbuh bilamana ia dapat mengekspresikan kehidupan yang sekalipun dihambat dengan berbagai tantangan dan cobaan namun terus merambat.

Namun bilamana dalam mengekspresikannya kita bertentangan maka kita akan kehilangan rohnya. Sebab itu John Calvin pernah berkata: “Alkitab harus dibaca dengan tujuan menemukan Kristus didalamnya, siapapun yang menyimpang dari objek ini, meskipun ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk belajar, dia tidak pernah mencapai pengetahuan tentang kebenaran.

Mengawali lembaran hidup perjalanan pelayanan Yesus dimulai dengan pencobaan iblis terhadap Yesus yang berlokasi di padang gurun kemudian diakhiri dengan pergumulan yang luar biasa di taman Getzemani.

Didalam dua peristiwa dan dua dimensi kurun waktu berbeda ada ritme kehidupan yang hendak Tuhan nyatakan dalam keberadaan diriNya.

Pergumulan antara melakukan kehendak diri sendiri atau pergumulan melakukan kehedak Dia yang mengutus Aku.
Dalam mempersiapkan diriNya, Yesus dibawah oleh Roh Kudus ke padang gurun, untuk mengasingkan diri, mempersiapkan dirinya untuk melakukan kehendak Sang Bapa.

Puasa adalah cara untuk mematikan kedagingan manusiawi, untuk mengerti apa kehendak Sang Bapa terhadap Sang Anak.

Sejenak kita melihat bahwa dalam Perjanjian Lama dalam kitab Kejadian pada saat Adam dan Hawa dicobai mereka berada dalam kelimpahan dan kenyamanan hidup, tetapi dalam keadaan ‘tersedia’ itu mereka tidak mampu menolak godaan Iblis, kita bisa membadingkannya dengan lokasi, situasi dan kondisi saat Yesus dicobai iblis di padang gurun yang gersang.

Alexsander Jones mengungkapkan bahwa padang gurun yang disebutkan dalam teks ini adalah sejak abad ke5, lokasi daerah yang mengkondisikan bebatuan tanpa penghuni antara Yerusalem dan Yerikho.

Ketika membaca injil Lukas pasal 4:1-13, disini dapat disimak bahwa iblis mencobai Yesus dengan pemahamannya yang ‘dangkal’tentang kebenaran, iblis mengekspresikan kebenaran menurut pemahaman si iblis yang bertentangan dengan Kebenaran yang dimaksudkan Yesus.

Berbicara tentang pencobaan, maka dapat ditelusuri pencobaan ini datang dari siapa? Untuk siapa ? dimana pencobaan itu tejadi?Apa tujuan pencobaan dilakukan?

Berdasarkan kitab injil Lukas 4:1-13, maka pencobaan ini datang dari Iblis, ia melakukan pencobaan terhadap Yesus yang sedang dalam masa puasa 40 hari, pencobaan itu dilakukan di padang gurun.

Tujuan pencobaan dilakukan adalah untuk menguji kesetiaan Yesus terhadap kehendak Sang Bapa yang mengutus-Nya, iblis juga menghendaki agar Yesus pun tunduk pada perkataannya yang hendak menghancurkan dan mau menggagalkan rencana agung Sang Bapa.

Iblis mencoba menyerang Yesus dititik lemah (pada saat Ia menjalankan masa puasa 40 hari).
Injil Lukas 4:1-13 menguraikan 3 hal yang menjadi isi pencobaan di padang gurun yakni:

Pertama: Merubah batu menjadi roti (Ayat 3-4)
Level pertama adalah level yang berhubungan dengan kebutuhan primer manusia. Kebutuhan mendasar manusia yakni soal makan.

Yesus sadar bahwa makanan penting bagi tubuh (karena itu saat menjalani puasa pun ia mengalami lapar- sebuah kondisi sesaat yang dialami akibat dari menjalankan puasa dan sebagai manusia sejati ia merasakan hal tersebut.

Namun Ia pun sadar bahwa iblis menggunakan roti sebagai alasan untuk menjatuhkan Dia dan menanggalkan semua rencanaNya.

Iblis paham sampai waktu tepat ia menawarkan merubah batu menjadi roti, namun tawaran itu direspon Yesus dalam (ayat ke-4). Jawaban yang diberikan Yesus tepat sasaran dan level pertama pencobaan itupun gagal total.

Iblis menghendaki yang jasmani menjadi utama namun Yesus mengajari bahwa bahwa Jasmani memang penting namun bukan yang utama.

Yang terutama adalah memelihara kehidupan yang kekal dengan bergantung pada Firman (dapat dilihat dalam paralel Injil Matius 4:3). Dengan demikian iblis hanya mementingkan kehidupan kedagingan sementara namun Yesus mementingkan kehidupan jiwa yang kekal.

Kedua: Memperlihatkan Kerajaan dunia dengan bermaksud merendahkan Yesus bilamana Yesus sujud menyembahnya, ini dilakukannya dengan memplesetkan kebenaran (Ayat 5-8).

Pada level kedua ini iblis hendak menguji Yesus dengan memperlihatkan kekayaan, kejayaan dalam kacamata jasmani dengan berbuat seolah-olah ia mau mengukuhkan identitas Yesus asalkan Yesus menyembah kepadanya.

Iblis merangkum paket pencobaan ini dengan mengatakan ketidakbenaran bahwa ia telah menerima semua kuasa dan kemuliaan. Lantas pertanyaannya kemudian adalah (siapa yang memberi iblis kuasa? Lagi-lagi iblis memutarbalikkan fakta keberadaannya.

Sesungguhnya tanpa sadar ia telah memproklamasikan bahwa ia tidak memiliki kuasa apapun. Yesus kemudian merespon dengan menjawab iblis (dapat dilihat dalam ayat ke-8).

Ternyata aksi yang dilakukan oleh iblis tidak berhenti disini, iblis terus berusaha, ia seolah-olah tidak kehilangan cara untuk menjalankan aksinya.
Iblis kemudian membawa Yesus ke Yerusalem di atas bubungan bait Allah untuk mencobai Yesus pada level ke 3.

Iblis kalah namun ia terus meningkatkan tawarannya yang lebih menggiurkan lagi.

Jika dalam permainan game, seseorang telah kalah maka dengan sendirinya akan ‘game over’. Namun tidak demikian terjadi dalam kekalahan yang dialami iblis, ia kalah di putaran pertama, namun justru ia menaikan standar level menunjukan kemegahan dunia, namun Yesus tidak mundur apapun bentul level tawaran iblis tidak membuat Yesus menaatinya.

Ketiga : Menyuruh Yesus menjatuhkan diri bahwa ada yang akan melindungiNya.
Pada level ini seruan tawaran iblis dengan berlandaskan pada jaminan keselamatan dan perlindungan.

Iblis mengkondisikan sebuah situasi seolah-olah ia mampu untuk memperdayai Yesus. Padahal iblis tahu persis bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Iblis membawa Yesus ke Yerusalem yang adalah kota suci, Bait Allah di Yerusalem adalah lambang kemewahan masyarakat Yahudi.

Iblis terus hendak memperdayai Yesus dengan segala tipu muslihatnya, Pencobaan Ketiga ini iapun mengakali dengan mengutip Firman Tuhan Mazmur 91: 11-12, kalau-kalau aksinya ini berhasil namun semuanya kandas. Ia mengutip Firman hanya untuk mempeletisir keadaan.

Lalu apakah kemudian pencobaan itu berhasil dilakukan oleh iblis terhadap Yesus? Jawabannya: Tidak” tidak ada satupun dari 3 level tawaran iblis (Baca: Lukas 4:3 -13) yang berhasil ia lakukan.

Aksi pencobaannya gagal total. Sebab Yesus menjawab semua perkataan iblis, Yesus berargumen dengan iblis untuk mempertahankan kebenaran dengan mengutip Firman Tuhan.

Pengenalan yang benar akan Kebenaran Firman mendatangkan kemenangan terhadap pencobaan yang dilakukan oleh tipu muslihat iblis. Sebab Yesus setia pada kehendak Sang Bapa.

Kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri, kebenaran selalu menang. Keberadaan Yesus dan kehadiranNya di padang gurun dengan menang atas pencobaan hendak membuktikan bahwa sebagai manusia sejati pun bisa menang terhadap iblis.

Kemenangan Yesus terhadap pencobaan merupakan sebuah kemenangan tanpa adanya pemenuhan kebutuhan hidup, tanpa adanya mujizat yang Ia lakukan dan hal tersebut memberi pemahaman bagi kita bahwa disaat taat pada kehendak Bapa yang mengutus, maka Ia akan mencukupkan kita dengan segala apa yang kita perlukan.

Bukan mujizat saja yang membuat orang percaya, namun percaya kepada Tuhan dan taat padanya melebihi segala sesuatu.
Siapapun kita tentu pernah mengalami masa pencobaan dalam hidup, pencobaan dalam sudut lokasi, kondisi dan situasi berlangsung saat itu.

Pencobaan selama 40 hari didalam Alkitab angka 40 memberi konotasi terhadap suatu masa penyertaan Tuhan;(bangsa Israel mengembara selama 40 tahun, Yesus dicobai selama 40 hari, Musa membunuh orang Mesir dan melarikan diri ke Midian selama 40 tahun ia menggembalakan ternak domba dan kambing di padang gurun.

Padang gurun adalah tempat yang berbahaya, berjalan di padang gurun berada pada situasi yang sulit dengan berbagai tantangan bergantung hidup di padang gurun seperti bergantung pada kematian.

Tidak ada yang bisa diharapkan di padang gurun sebagai simbol lokasi yang gersang tidak ada kehidupan, sebuah kondisi yang memprihatinkan karena tidak ada orang di padang belantara tersebut.

Air pun sebagai pemuas dahaga sulit ditemukan di padang belantara, situasi belantara menunjukan tiada kehidupan yang didapati di padang gurun/padang belantara tersebut, yang ada hanyalah keheningan.
Di padang gurun semua terlihat sama, hamparan pasir di padang belantara.

Disisi lain padang gurun menjadi lokasi dan tempat pengujian diri untuk bergantung dan patuh dalam ketaatan terhadap Allah.
Padang gurun merupakan sebuah situasi yang menjadikan seseorang menjadi kuat bahkan teruji dalam kualitas iman.

Sejak awal Yesus begitu konsisten terhadap jawaban-jawaban yang Ia berikan kepada iblis, dan setiap jawaban yang disampaikan Yesus untuk menolak tawaran iblis adalah dengan Firman Allah yang tertuang dalam Kitab Suci.

Kemudian iblis menghindar dan menunggu saat yang tepat, iblis memiliki rancangan dan ketekunan yang luar biasa, iblis tekun untuk terus mencobai, dan apabila kita lalai dalam berdoa dan belajar Firman Tuhan, lantas bagaimana kita dapat menang melawan tipu muslihat iblis?

Terkadang dalam ziarah perjalanan kita di dunia ini, Roh Tuhan juga membawa kita ke ‘padang gurun kehidupan’ tempat yang tidak nyaman sama sekali, tempat kesunyian, agar Ia dapat berbicara dengan kita dan kita dapat mendengar suara-Nya.

Tempat dimana seolah-olah tidak ada pertolongan manusia, namun nyata Pertolongan Tuhan, tempat dimana arah masih terlihat samar-samar, namun Ia tetap mengatur arah hidup kita menjadi jelas.

Tempat dimana segala sesuatu tidak tersedia secara kasat mata, namun Tuhan memberikan kekuatan untuk kita dapat mengatasinya.

Di padang gurun kehidupan inilah tempat untuk melatih dan membentuk menjadi pribadi-pribadi yang kuat dan kokoh dalam iman kepada Tuhan.

Di padang gurun kehidupan inilah masihkah kita konsisten mendengar suara Tuhan ataukah tidak?
Yesus yang kekuatannya tidak terbatas oleh ruang dan waktu saja masih memberi diri seutuhnya untuk bersandar pada Sang Bapa, lantas bagaimana dengan kita yang memiliki kekutan yang terbatas ini? Masihkan kita mau bersandar padaNya?

Karena itu resep menang terhadap pencobaan adalah:
1.Kita harus setia di jalur Tuhan,
seringkali pola hidup materialistik dan hedonisme, melunturkan niat mula-mula yang dijalankan.

Memilih taat kepada-Nya yang menghantar kita pada pemenuhan kehendak Tuhan bukan pada pemenuhan pada kebutuhan hidup jasmaniah yang bersifat sementara.

2. Tetap berpedoman pada Firman Tuhan. Dalam kondisi sesibuk apapun tetaplah ada waktu untuk membaca Firman Tuhan sebab di sanalah Tuhan hendak berbicara dengan kita, tentang maksud- maksudnya yang hanya kita temukan dalam Injil kabar baik itu.

Semakin dewasa pertumbuhan rohani seseorang maka kebergantungan kepada Allah harus kian hari kian bertambah. Apabila ada cobaan jangan pernah lari dan menghindar, namun lawan dengan senjata rohani, minta hikmat Tuhan dalam kita melawan Iblis, sebab hidup adalah sebuah perjalanan tantangan yang dihadapi bukan untuk dihindari, dan sebuah perjuangan yang harus dimenangkan.

Kita tidak akan lolos dari padang gurun kehidupan bilamana kita tidak taat pada kehendak Tuhan, bila kesombongan masih merupakan pencarian utama kita, bila keserakahan masih menjadi target kehidupan kita, keserakahan adalah hasrat yang berlebihan pada hal-hal duniawi.

(Bapa gereja kerap mengecam keserakahan dengan memakai kata Concupiscence sebagai persoalan yang serius), jika berhala masih menjadi alat memuaskan hasrat keinginan kita, dan kita tidak akan lolos bila masih mempeletisir Kitab Suci hanya untuk memuaskan nafsu hasrat duniawi semata.

Menang terhadap pencobaan di padang gurun kehidupan kita masing-masing terletak pada bagaimana kita menyikapi setiap situasi dan kondisi yang dialami.

Sebab itu yang terutama dan yang utama berpegang teguh, berpedoman pada Firman, pada kebenaran. Karena itulah yang menuntun hidup kita menang dan memahami apa yang kita imani dengan benar,dan terus percaya akan keterlibatan Allah dalam sejarah hidup setiap hari untuk menghayati kesetiaan Allah di dalam ketidaksetiaan dan kelemahan kita, karena itu setialah dijalan Tuhan.

Sebab kesetiaan mengisyaratkan perjalanan durasi waktu masa lalu, kini dan masa depan dalam sebuah perjalanan arus kehidupan tanpa jeda, karena itu dalam rahim kesetiaan di jalan Tuhan kita terus menghayati kehadiran Tuhan dalam semua sisi, ruang kehidupan kita. Roh Kudus menolong dan memberi hikmat bagi kita dalam memaknai Firman-Nya. Amin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.