oleh

Membangun Persaudaraan Menyambut Natal

-Berita, Opini-348 Dilihat

Bacaan Alkitab : Lukas 1:39-45

Oleh : Glory E.A.P Manao-Weo, S.Si Teol.  GMIT Betel Oefafi,Kupang Timur

SUARA TTS . COM | SOE – Betapa indahnya hidup ini dikatakan sebagai self giving relationship (relasi yang saling memberikan) relasi inilah yang terjadi dalam perjumpaan Maria dan Elisabeth.

Perjumpaan yang kelihatan dibalik pergumulan batiniah yang tidak kelihatan, melahirkan sebuah perjumpaan persaudaraan yang meneguhkan.

Maria dan Elisabeth adalah dua orang figure perempuan hebat yang telah menyelesaikan pertempuran hebat dalam pergumulan batin mereka dengan Tuhan.

Yang satu bertempur dalam pergumulan batin “ bagaiamana mungkin saya mengandung tanpa hubungan biologis?, bagaimana mungkin saya mengandung tanpa memiliki suami, bagaimana mungkin hal ini tejadi pada saya? Namun saya tunduk pada otoritas Tuhan.

Mungkin saja pertanyaan ini bisa berkecambuk dalam pergumulan batin Maria. Yang satu bertempur dalam pergumulan batin “ bagaimana mungkin saya mengandung dengan usia yang telah senja”? bagaimana mungkin saya yang dikatakan mandul itu diperkenankan Tuhan untuk dapat mengandung?.

Mungkin saja pertanyaan ini juga berkecambuk dalam hati Elisabeth. Namun pergumulan batin antara dua perempuan ini mengisahkan kisah bahwa dibalik pertempuran batin itu ada perjumpaan yang saling meneguhkan, ada perjumpaan yang saling menguatkan.

Ya, perjumpaan antara Maria dan Elisabeth adalah bagian dari rencana Allah karena mereka berdua adalah 2 perempuan yang dipilih Allah untuk memulai karya penyelamatan Allah bagi umat manusia.

Perempuan-perempuan biasa nan hebat ini diutus oleh Allah dalam proyek pekerjaan-Nya, mereka ini adalah manusia biasa. Namun dengan pengabdian diri yang mendominasi dikerjakan oleh Roh Kudus.

Panggilan dan perjumapaan Allah dalam kehidupan Maria memberikan sebuah kekuatan penggerak dalam sejarah dunia, bahwa Maria masuk dalam Rancangan Allah, bahwa manusia yang dipandang “beraib” sekalipun sesungguhnya ia tidak melakukan aib bersama Yusuf tunangannya, namun ia ada dalam rancangan Allah.

Perjumpaan Maria dan Elisabeth adalah perjumpaan yang meneguhkan dan menguatkan, perjumpaan yang hanya sesaat namun memiliki impact yang luar biasa dalam relasi persaudaraan.

Perjumpaan Maria dan Elisabeth adalah perjumpaan 2 perempuan yang dipakai Allah untuk ada dalam karya keselamatanyang kerjakan olehNya.

Bacaan Alkitab berkisah tentang perjumpaan Maria dan Elisabet. Dalam Lukas dikatakan bahwa Elisabet adalah sanak dari Maria. Maria mengunjungi Elisabet, mungkin hendak memastikan apakah benar perkataan malaikat bahwa Elisabet yang mandul sedang hamil.

Maria membutuhkan dukungan dalam menjalani rencana Allah di mana dirinya akan melahirkan seorang anak laki-laki. dalam beberapa referensi untuk dapat berjumpa dengan Elisabeth ia menempuh perjalanan kurang lebih 130km, dalam perjalanan yang jauh tersebut semua kelelahan, keletihan terjawab dalam sebuah perjumpaan persaudaraan yang saling menguatkan.

Maria dan Elisabeth adalah sosok perempuan hebat, yang telah melewati pertarungan hebat dalam pergumulan batinnya bersama Tuhan. Maria digerakkan oleh jalinan persaudaraan dengan Elisabet.

Ia mengambil kesempatan perkunjungan itu untuk menghidupkan atau menghangatkan persaudaraan di antara dirinya dan Elisabet

Cerita ini membawa kita kepada momen Natal di mana dengan mengunjungi saudara saudara kita maka kita dikuatkan dalam ikatan kasih persaudaraan, dalam perjumpaan selalu ada dialog interaktif yang memberi energi postif yang dibingkai dalam spiritualitas perjumpaan. Ketika Elisabet melihat Maria, ia diliputi Roh Kudus dan bersukacita.

Dengan spontan ia mengungkapkan sukacitanya menerima Maria, bukan hanya sebagai seorang saudara tetapi juga sebagai “ibu Tuhan”.

Ini adalah sebuah pengakuan yang syarat dengan makna tersurat dan tersirat, bahkan yang membuat Elisabeth bersukacita adalah Tuhan yang ada dalam kandungan Maria.

Kehadiran Yesus dalam rahim Maria menjadi sumber kehangatan kasih dan sukacita persaudaraan di antara Maria dan Elisabet.

Maria dan Elisabeth dipakai Allah untuk maksud keselamatan Allah bagi dunia, bahwa mereka dipilih Allah untuk menerima anugrah-Nya.

Melahirkan anak yang dijanjikan Allah untuk rencana keselamatan dunia. Proses yang membuat mereka disampaikan khusus oleh Malaikat Allah kepada mereka.

Maria belum menikah, belum pernah merasakan bagaimana halnya mengandung . demikian juga dengan Elisabeth.

Sekalipun ia sudah lama menikah dengan Zakharia, tetapi pengalaman mengandung adalah pengalaman pertama baginya.

Karena keduanya baru pertama mengalami hal mengandung pertama kali, maka pertemuan mereka ada dalam rancangan ada maksud Allah di dalamnya.

Disamping Maria dan Elisabeth yang juga merupakan perempuan yang menerima anugrah Allah, mengandung utusan Allah.

Di usia lanjut yang bagi banyak orang mustahil seorang perempuan mengandung, Elisabeth justru mengandung. Kasus Elisabeth, istri Zakharia mengandung berbeda dengan Maria.Ini bukan aib, karena sesungguhnyan ia sudah bersuami.

Pada tataran inilah kita mengaminkan bahwa Allah-lah yang mengasihi ketika kita berserah diri sepenuhnya pada Allah dan membiarkan rencana Allah terjadi melalui kita serta kita juga ikut serta melakukan yang Allah kehendaki, maka Allah akan senantiasa merancangkan rencana keselamatan dan perlindungan bagi kita.

Maria memang berserah sepenuh pada kehendak Allah (ayat 38), tapi sebagai manusia biasa ia juga butuh dukungan. Ia butuh dukungan berupa kekuatan perjumpaan dengan Elisabeth dan rumah Zakaria dan Elisabeth adalah rumah perjumpaan yang meneduhkan.

Renungkan pada hari ini mendorong kita untuk:

1. Terus memupuk dan membangun persaudaraan dalam menyambut kelahiran Tuhan Yesus. Perayaan Natal menjadi tidak berarti apabila hubungan relasi kekeluargaan kita tidak baik(buruk).

Kita tidak mungkin mengalami situasi rukun dan damai bila menutup diri dari perjumpaan dan pertemuan yang menghidupkan. Untuk mendapatkan relasi yang penuh kedaimaian kita perlu selalu terbuka kepada sesama, aktif membangun relasi dan komunikasi dengan orang lain.

2. Allah berhak memakai siapa saja ada rancangan keselamatanNYa, Dia bisa saja memakai Maria Perwawan yang muda, namun Ia juga memakai Elisabeth seoarng perempuan lanjut usia, siapa saja yang dipakai Allah, ia berada dalam rancangan Allah untuk tujuan Allah.

3. Ketika kita berserah diri secara totalitas kehidupan yang holistic pada Allah dan membiarkan rencana Allah terjadi melalui kita serta kita juga ikut serta melakukan yang Allah kehendaki, maka Allah akan senantiasa merancangkan rencana keselamatan serta perlindungan bagi kita, sebab kita berada dalam tangan-Nya.

4. Perjumpaan dengan Tuhan adalah perjumpaan yang mengubah totalitas kehidupan manusia, Ia menggerakan manusia agar ada dalam ritme kehidupan yang Ia berikan.

5. Relasi persaudaraan dan kekeluargaan itu harus dirawat dengan baik, dipupuk dengan tali ikatan cinta kasih dalam keluarga, saling berkunjung adalah bagian dari memupuk dan memelihara tali persaudaraan agar tidak pudar.

Momen menjelang Natal adalah kesempatan untuk membekali diri dengan energi spiritual untuk memberi makna hidup dan menemukan keseimbangan dalam kehidupan. Belajar dari kisah perjumpaan Maria dan Elisabet maka kita perlu memanfaatkan momen sekarang ini untuk saling meneguhkan dalam sukacita dan membangun persaudaraan. Kita tidak kehilangan moment bila kita member diri ada dalam tujuan Allah. 

Minggu ke empat adven dimaknai sebagai minggu perdamaian. Sebentar lagi kita akan memasuki masa raya Natal. Kesempatan ini mari kita gunakan untuk menata relasi kita, persaudaraan kita saling mendukung dalam membangun kehidupan yang lebih baik. kiranya dengan menyambut kelahiran Tuhan Yesus pada hari raya Natal, kiranya harmonisasi relasi persaudaraan dan kekeluargaan di antara kita semakin membentuk spiritualiats iman kita dalam Ikatan Cinta Kasih Persaudaraan.  

Selamat menyongsong Natal, Selamat ada dalam lingkaran perjumpaan bersama Tuhan

Selamat merayakan Minggu Advent IV. TUHAN YESUS MEMBERKATI

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.