oleh

Memangkas Jeratan Feodalisme di TTS

-Berita, Opini-267 Dilihat

Oleh: Honing Alvianto Bana

SUARA TTS.COM | SOE – Masyarakat kita memang masih hidup di dalam iklim feodalisme yang kuat. Memang ada pernyataan tegas, bahwa setiap warga negara setara di hadapan hukum. Akan tetapi pernyataan tersebut rupanya tidak menjadi realitas. Banyak orang dianggap tidak setara dengan orang-orang lainnya.

Struktur Kolonial dan Feodalisme.

Sejujurnya sistem peninggalan kolonial dan feodalisme ini masih sangat erat dan terasa di daerah kita. Untuk itu, kita perlu memahami strukturnya secara jelas.

Pada zaman penjajahan dulu. Saat para penjajah (kolonial) datang, sebagian raja mengambil keuntungan dari struktur feodal di masyarakat. Para penjajah tidak akan mencopot raja, selama ia masih mau mengabdi pada kepentingan mereka.
Akhirnya, rakyat jelata diperas oleh para bangsawan yang bekerja sama dengan penjajah.

Jadi, penjajah memeras para bangsawan, dan para bangsawan ini memeras rakyat jelata. Kira-kira seperti itulah strukturnya, sehingga rakyat semakin tertindas.

Nah, biasanya orang yang tertindas akan musnah sisi kemanusiaannya. Sifat manusianya hilang, yg tersisa adalah sisi kebinatangannya. Jika dalam keadaan miskin, mereka mudah bermusuhan dengan sesamanya. Saling curiga, saling intai, bahkan sampai “saling tikam dari belakang”.

Masyarakat Feodal.

Masyarakat yang hidup dalam sistem feodalisme yang masih kuat selalu menghasilkan manusia dengan dua tipee mental. Pertama, manusia bermental atasan; kedua, manusia bermental bawahan.

Manusia tipe pertama, ia selalu ingin berada di posisi atas dan selalu ingin dihormati dan didengar oleh manusia tipe bawahan. Manusia tipe pertama ini pun sering kali tidak suka jika ada sesamanya yang lebih maju atau lebih baik darinya. Ia akan selalu merasa tersaingi.

Sedangkan manusia tipe kedua, ia selalu tak percaya diri dan selalu merasa minder. Ia menerima dan betah berada di bawah. Ia juga lebih suka mengalah dan diperintah meski tak sesuai dengan apa yang ia inginkan.

Mentalitas Pengikut.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa merasakan dan menyaksikan dengan jelas satu bentuk mentalitas seperti itu. Mentalitas itu saya sebut sebagai mentalitas pengikut. Mentalitas pengikut berarti orang selalu tidak percaya diri dan tidak mau berpikir mandiri. Ia menyerahkan keputusan hidupnya pada apa kata kelompok. Dalam hal ini, kelompok itu adalah yang “berdarah biru”.

Mental pengikut ini pun terwujud nyata di dalam sikap abdi. Sikap abdi yang saya maksudkan adalah orang selalu merasa minder dan lebih suka diperintah, daripada memutuskan sendiri apa yang mesti ia lakukan. Orang lebih senang mengalah serta tunduk pada kata orang lain, daripada mempertimbangkan sendiri, apa yang baik dan buruk bagi dirinya.

Sikap abdi yang meluas akan menciptakan orang-orang yang selalu sopan kepada orang ‘luar’ dan atau orang yang memiliki status sosial lebih tinggi. Akan tetapi saling curiga, saling tikam, dan saling menjatuhkan jika bersama saudaranya sendiri.

Hegemoni

Pada bentuknya yang paling ekstrem, kita lalu membenci budaya kita sendiri. Akar dari kebencian ini adalah mental pengikut dan sikap abdi tadi (tidak percaya diri, minder, dan lebih suka diperintah) yang kesemuanya berpijak pada ketakutan akan kebebasan.

Kita pada akhirnya merasa bangga dengan mencerca budaya sendiri, dan dengan senang hati memuja budaya dari daerah lain, tanpa tolok ukur yang obyektif. Lalu, kita pun seakan menjadi budak yang bangga, yakni budak yang tidak merasa dirinya sebagai budak.

Kita merasa bahagia, walaupun terjajah. Kita merasa lega dan gembira, walaupun menjadi abdi yang setia, yang takut berpikir sendiri dan rindu untuk dikuasai. Ada mekanisme halus yang menjadi latar belakang dari semua ini, yakni kekuatan hegemoni.

Hegemoni adalah sebentuk penjajahan. Ia begitu halus sekaligus kuat, sehingga orang yang terjajah tidak merasa dirinya dijajah. Ia merasa dirinya baik-baik saja, bahkan bahagia, walaupun hidup dalam ketergantungan total atas pihak lain yang lebih kuat dari dirinya. Hegemoni adalah cara menindas yang membuat masyarakat yang ditindas tertawa bahagia.

Hegemoni lalu melahirkan jenis manusia tertentu. Mereka suka menjilat penguasa, dan menindas yang lemah. Idiom untuk hal ini jelas, yakni jilat atas, injak bawah. Banyak orang tidak suka dengan hal itu, walaupun mereka secara nyata melakukannya.

Inilah kekuatan hegemoni yang pada akhirnya kembali melahirkan mental pengikut dan sikap abdi tadi, yakni tidak percaya diri, minder, dan lebih suka diperintah. Sikap-sikap itu tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari situasi budaya tertentu.

Demokrasi Kita dan Kultur Feodal

Kultur feodalisme inilah yang menjadi salah satu penyebab kita tidak bisa melakukan pilkades, pileg, dan pilkada secara efektif dan efisien. Banyak orang menggunakan gelar kulturalnya, seperti usif, meo, dan lain sebagainya bukan hanya untuk menarik, tapi juga mengancam pemilih. Ketika gagal, mereka lalu merasa terhina. Perasaan terhina itu muncul, karena mereka menganggap diri mereka ‘berdarah biru,’ alias keturunan bangsawan. Mereka menganggap diri lebih tinggi dan lebih berhak daripada masyarakat lainnya.

Sekali lagi, slogan kesetaraan di hadapan hukum tampaknya masih menjadi impian bagi kita di TTS. Faktanya, banyak orang masih berpikir feodal, yakni menempatkan diri lebih tinggi daripada status orang-orang pada umumnya.

Pemimpin Berwatak Feodal

Sejujurnya, sistem feodal masih sangat kuat didaerah kita. Sistem ini biasanya dipelihara secara diam-diam oleh sekian politisi dan elite penguasa di daerah kita.

Untuk mendeteksi keberadaan sistem feodalisme yang masih sangat kuat ini, kita bisa mendeteksinya lewat setiap steatmen, sikap, dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

Pemimpin dan politisi berwatak feodal seringkali membuat aturan dan kebijakan yang seolah-olah berpihak kepada masyarakat lokal. Padahal, kebijakan itu hanya untuk melenggengkan posisi mereka dalam sistem feodal yang ada.

Karena didaerah kita masih masih di kuasai oleh politisi feodal seperti ini, maka tak heran, jika pembangunan di berbagai daerah selalu berjalan lambat selama mereka berkuasa.

Melambatnya pembanguan didaerah kita, salah satu faktornya karna mereka tak punya komitmen dan kemampuan untuk mengurusnya secara serius. Alasannya sederhana, para politisi dan pemimpin feodal lebih suka mempertahankan posisi mereka, ketimbang sibuk mengurus masalah-masalah mendasar yang sedang terjadi ditengah-tengah masyarakat.

Lingkaran setan dari kemiskinan ekstrim, tingginya kekerasan terhadap perempuan dan anak, tingginya angka perkawinan dini, krisis air, stunting dan lain-lain adalah masalah yang tak pernah serius dipikirkan oleh para pemimpin dan politisi feodal ini.

Meninggalkan Feodalisme dan Menata Perubahan

Berita gembiranya, situasi yang dihasilkan dari kultur feodal ini tidak mutlak. Ia bisa diubah. Proses perubahan ini amat bergantung dari kekuatan kehendak kita sebagai anak-anak daerah, dan langkah-langkah jitu yang kita ambil.

Langkah pertama sebenarnya amat jelas, bahwa kita harus menyadari jejak-jejak penjajahan yang masih berbekas di benak kita dalam wujud tiga mentalitas tadi, yakni tidak percaya diri, minder, dan lebih suka diperintah, sebagaimana saya jabarkan sebelumnya. Kesadaran akan hal ini membuahkan keinginan untuk berubah, dan kehendak untuk mulai berproses dalam langkah-langkah panjang perubahan.

Langkah kedua, kita sebagai pribadi, harus mulai berani untuk berpikir mandiri. Berani melestarikan nilai-nilai luhur yang ada didalam kebudayaan kita, dan berani mempertimbangkan kembali nilai-nilai dan sikap yang menghambat kemajuan daerah kita.

Untuk itu, kita perlu melihat ke dalam nurani kita sendiri sebagai manusia, dan kita perlu menggunakan akal budi kita secara bebas dan mandiri untuk mempertimbangkan langkah-langkah demi kebaikan kita semua sebagai anak asli daerah.

Untuk melakukan hal-hal itu tentu tidak mudah, sebab pasti ada perlawanan dari orang-orang yang selama ini mengambil keuntungan dari kultur tersebut. Namun itu sama sekali bukan alasan untuk menyerah. Hal-hal terbaik dalam hidup selalu sulit untuk diperjuangkan. Menghilangkan mental feodal pun begitu. Ia amat sulit untuk dihilangkan. Namun, ketika berhasil, jalan lapang menuju keadilan serta kesejahtraan bagi masyarakat TTS akan semakin terbuka. Salam

*Honing Alvianto Bana. Lahir di Kota Soe – Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang aktif di Komunitas Paloli TTS dan pemuda gereja GBKN.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.