oleh

Lurah Soe Bantah Terlibat Proyek di Lakat, Pendamping & Kades Diduga Terima Fee 10 Persen

-Berita-760 Dilihat

Ket Foto.Ilustrasi

Laporan Reporter SUARA TTS.COM,Erik Sanu

SUARA TTS.COM | SOE – Lurah Soe, Pace Radja membantah terlibat dalam pekerjaan proyek rabat dan saluran di Desa Lakat, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten TTS.

“Saya tidak tau soal itu, saya ASN bukan kontraktor”, ujarnya kepada SUARA TTS.COM,Senin 30 Mei 2022,di ruang kerjanya.

Sementara itu  pihak CV Gamelsia  melalui Direktur saat dikonfirmasi mengatakan sudah melakukan pengadaan material sesuai dengan RAB dan tidak ada persoalan. “Kami sudah turunkan material sesuai RAB. Kalau HOK itu urusan masyarakat”, ujar sang Direktur.

Dijelaskan, pihak CV sudah melaksanakan tugas pengadaan material sehingga tidak tau soal adanya pekerjaan yang belum selesai. Direktur CV ini kemudian menyebut, saat pekerjaan berjalan kepala desa menambal volume sehingga saat diminta tambahan material,ia menolak karna itu sudah  diluar RAB.

Ia juga menyebut pendamping dan kepala desa meminta fee dari proyek sebesar 10 persen dari total nilai kontrak.” Saat mau kerja, kita serahkan memang fee 10 persen yakni 20 juta . Khusus pendamping 10 juta, sisanya mungkin Kades dan panitia”, ujarnya.

Kades Benyamin Selan saat dikonfirmasi terkait dugaan menerima fee hanya tertawa tanpa memberikan jawaban yang pasti.

Pendamping Desa Teknik Infrastruktur (PDTI) Kecamatan Kuatnana,Nyongki Malelak dikonfirmasi membantah pernyataan tersebut.”Maaf Kaka itu pernyataan tidak betul “,tulisnya singkat melalui pesan WhatsApp.

Diberitakan sebelumnya, dua item pekerjaan di desa Lakat, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang bersumber dari dana desa tahun 2021 yang lalu tidak diselesaikan.

Mirisnya, material seperti semen yang tersimpan di rumah Sekretaris BPD tidak digunakan sehingga membatu.

Dua item pekerjaan yang tidak selesai dikerjakan yaitu saluran sepanjang 80 Meter yang terletak di RT 25, RW 12, Dusun C sedangkan rabat 20 Meter di RT 23,RW 11.

Sekretaris BPD Tobias Isu kepada SUARA TTS.COM, Sabtu 28 Mei 2022 menjelaskan sejak awal pekerjaan, ada 200 sak semen yang ada di rumahnya. Pekerjaan saluran dikerjakan oleh masyarakat namun setelah material pasir habis maka pekerjaan tidak dilanjutkan. Dirinya sudah berulang kali meminta kepala desa untuk menurunkan material dan disuruh menunggu hingga saat ini tidak ada akibatnya semen sisa 34 sak membatu.

” Saluran 200 meter dan kami sudah kerja sisa 80 meter yang belum dikerjakan karna pasir habis. Kami sudah minta TPK dan Kepala desa tapi bilang nanti sampai sekarang”,ujar Thobias.

Meski menyisakan pekerjaan, pembayaran HOK sudah lunas terbayar untuk total 200 meter.                        Kepala tukang untuk pekerjaan rabat, Hendrik Faot mengatakan hal yang sama. Menurutnya panjang rabat yaitu 200 meter dan sudah dikerjakan sedangkan sisa belum selesai dikerjakan 20 Meter.

Keluhan yang sama yaitu kurangnya material pasir. Sementara ada 13 sak semen yang membatu. ” Kita punya kurang pasir. Sudah sampaikan ke bapak desa tapi bilang nanti “,ujar Hendrik.

Sementara itu Ketua TPK desa Lakat, Didjon Nesimnasi dikonfirmasi via telpon membenarkan jika ada pekerjaan yang belum selesai. Sebagai Ketua TPK dirinya sudah menyampaikan hal tersebut kepada kepala desa dan juga kontraktor.

Dijelaskan, pekerjaan rabat dan jalan satu paket dengan total anggaran Rp 244.495.000 yang dikerjakan oleh CV Gamelsia.

“Saya sudah telpon dengan kontraktor dan dia bilang harus tambah uang lagi. Saya tidak tau kontraktor omong bagaimana dengan bapak kepala desa”,ujarnya. Didjon bahkan mengatakan dirinya hanya pengelola sedangkan keputusan sepenuhnya ada pada kepala desa.

Kepala desa Lakat, Benyamin Selan sempat menyebut nama lurah Soe terlibat dalam pekerjaan tersebut yang kemudian dibantah oleh sang Lurah.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.