oleh

Lelly Hayer : Butuh Waktu 3 sampai 5 Hari Untuk Air Sampai Ke Kota Soe

-Berita-181 Dilihat

Ket Foto : Direktur PDAM Soe,Lelly Hayer,SE

Laporan Reporter SUARA TTS .Com

SUARA TTS .COM| SOE- Direktur PDAM Soe, Lilly Hayer mengatakan, pelepasan air Bonleu ke Kota Soe tidak serta-merta membuat air bisa langsung mengalir ke Kota Soe.

Pasalnya setelah satu bulan lebih pipa-pipa air tersebut kosong, pihaknya harus membersihkan terlebih dahulu pipa tersebut.

Selain membersihkan, ada 26 get penghubung yang harus dibuka untuk mengurangi tekanan sehingga ketika air dialirkan pipa tidak meledak.

” Perlu diketahui, secara teknis ada beberapa tahapan yang harus kita lakukan pasca air Bonleu kembali dilepas. Secara teknis kami harus membersihkan pipa dan membuka get penghubung. Dan itu membutuhkan waktu 3 sampai 5 hari,” Jelas Lelly yang ikut hadir dalam pertemuan guna pembukaan kembali air Bonleu, Senin 15 November 2021.

Untuk diketahui, Ritual adat pelepasan kembali air Bonleu telah dilakukan tokoh adat Bonleu, Senin 15 November 2021 malam, tapi hingga kini masih terjadi dualisme di masyarakat Bonleu. Selain ada kubu yang menghendaki agar air kembali dilepas ke Kota Soe, ada juga kubu masih bertahan tidak ingin melepas air ke Kota Soe hingga tuntutannya dijawab pemerintah.

Gomer Pilis dan Soleman Fallo Cs masih bertahan dan berkeras tidak mau melepas air ke Kota Soe hingga jalan Bonleu dikerjakan.

Di sisi lain, penutupan air Bonleu membuat warga Kota Soe menjerit karena harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli air.

Konflik penutupan sumber mata air Bonleu yang berkepanjangan membuat Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang bergerak untuk memediasi penyelesaian masalah tersebut.

Bahkan, Dr. Harun Y. Natonis S.Pd., M.Si selalu Rektor IAKN Kupang turun tangan untuk menyelesaikan persoalan tersebut hinga berujung Ritual ada pelepasan kembali air Bonleu.

Harun membangun komunikasi dengan tua adat, Alfred Baun, Aleta Baun dan Bupati TTS, Egusem Piether Tahun untuk menyelesaikan konflik yang menyengsarakan warga Kota Soe tersebut.

Namun sayangnya, Gomer Pilis dan Soleman Fallo Cs masih berkeras pada tuntutannya.

Alfred Baun dan Aleta Baun yang ikut dalam penutupan sumber air Bonleu telah melunak dan mendukung pembukaan kembali air Bonleu.

Alfred mengatakan, dirinnya siap bertanggung jawab untuk membuka kembali air Bonleu.

Walaupun masih ada kubu yang menolak membuka kembali air tersebut, Alfred siap pasang badan untuk membuka kembali air Bonleu.

” Ritual adat sudah kita lakukan dan air Bonleu akan kembali kita lepas ke Kota Soe. Memang ada kubu yang masih menolak untuk buka kembali, tapi saya siap pasang badan untuk buka kembali air tersebut untuk kepentingan orang banyak,” ungkap Alfred.

Ritual ada pembukaan kembali air Bonleu juga diikuti oleh Karo Umum IAKN Kupang, Drs. Yorhans Lopis, M.Si, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Soleman Baun dan Wakil Rektor II, Bidang Administrasi Umum, Keuangan dan Perencanaan, Maksy Lakapu.

Dr. Harun sendiri tidak ikut menghadiri Ritual tersebut karena harus menghadiri kegiatan penting di Bali.
Yorhans Lopis mewakili IAKN Kupang menyambut baik pelaksanaan ritual ada untuk melepas kembali air ke Bonleu ke Kota Soe.

Pasalnya, konflik Bonleu yang terus berpanjangan telah menyusahkan banyak warga Kota Soe dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.

Sebagai Kampus Kristen IAKN memiliki kewajiban untuk hadir di tengah-tengah masalah dalam berbagai kondisi ketika masyarakat membutuhkan. Oleh sebab melihat konflik yang terjadi di Bonleu, IAKN tergerak untuk hadir sebagai mediator guna menyelesaikan masalah yang ada.

Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi sehingga masalah Bonleu terselesaikan. (DK)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar

  1. Tiga hari adalah waktu yang singkat bu. Dibandingkan dengan saudara-saudara kita di berbagai kampung mereka menunggunya bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, itupun yang yang di tunggu cuma musim hujan bu. Soal kekeringan, beli air sekalipun penuh keterbatasan finansial, rela tidak mandi dan cuci, BAB ke hutan hanya untuk hemat air, menimbulkan asumsi seolah-olah tidak ada perhatian buat mereka namun mereka hadapi dengan ikhlas bu.