oleh

Korban Pengeroyokan Di Desa Lakat Pertanyakan Kinerja Penyidik Polres TTS.

-Berita, Hukrim-218 Dilihat

Ket Foto: Mikhael Nesimnasi didampingi Yafed Nesimnasi dan Joni Nesimnasi di Mapolres TTS.

Laporan Reporter SUARA TTS .COM

SUARA TTS .COM | SOE- Kasus pengeroyokan yang dilakukan Obed Nesimnasi Cs terhadap Mikael Nesimnasi dinilai penanganannya lambat. Keluarga korban pun mempertanyakan kinerja penyidik.

Hal ini diungkapkan Yafed Nesimnasi kepada SUARA TTS.COM, Kamis 27 Januari 2022. Kakak dari korban Yafed Nesimnasi ini mengaku pihaknya sudah bolak balik polres TTS namun sepertinya mereka dipermainkan.

Dirinya merasa heran karna para pelaku sudah mengaku sedangkan tiga orang yang dijadikan saksi masing masing Kepala desa Lakat Benyamin Selan, Kepala Dusun dan Semi Taneo. Ketiganya ada saat kejadian,bahkan Kepala desa yang menyuruh untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polisi.

Lima orang pelaku masing masing Simon Petrus Isu,Obed Nesimnasi,Ima Nesimnasi,Buce Dapat, Us Selan sudah mengakui perbuatannya dihadapan penyidik.

Kepala desa dan kepala dusun sudah dipanggil dan mengakui ada saat kejadian namun mau dijadikan saksi.

“Kami datang cek kasus namun penyidik minta kami untuk cari saksi, padahal kepala desa dan kepala dusun sudah dipanggil dan masih sisa 1 orang”,

Dirinya merasa kesal karna dijanjikan bertemu dengan penyidik namun saat tiba di Polres, penyidik tidak nampak.

Yafed minta kasus tersebut harus terus diproses karna laporan dari bukan Oktober.

Untuk diketahui Mikhael Nesimnasi, Warga RT 03,RW 01, Desa Lakat, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang dikeroyok oleh sekelompok orang hingga babak belur.

Peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi pada tanggal 30 September 2021 sekitar pukul 11.00 WITA di dekat kantor desa setempat.

Kasus tersebut kemudian dilaporkan dengan Nomor Polisi : STTLP/B/239/X/2021/SPKT.Polres.Polda NTT yang ditandatangani oleh Kanit III SPKT Ipda N. Simanjuntak tertanggal 1 Oktober 2021.

Mikhael kepada Suara TTS .com 19 November lalu mengisahkan awalnya ia jemput dari kampung Nekleu oleh Kepala Dusun II,Osias Selan karna rumahnya yang berlokasi dekat kantor desa terbakar.

“Saya punya rumah ada dua, yang satu di Nekleu dan yang satunya di dekat kantor desa. Saya dijemput oleh kepala dusun karna rumah yang dekat kantor desa terbakar”,ujarnya

Dikatakan kepala dusun menjemput dirinya atas perintah kepala desa perihal kebakaran tersebut.

Saat hendak tiba di lokasi,dirinya dihadang oleh sekelompok orang dan dikeroyok hingga jatuh babak belur dan diinjak injak.

” Kita mau sampai lokasi kebakaran tiba tiba dihadang lalu dipukuli. Yang pukul saya banyak orang dan kena bagian wajah bahkan saat jatuh ada yang injak di leher”,ujarnya.Ia kemudian dibawa oleh warga kembali ke rumahnya dalam keadaan sekarat.

Keesokan harinya,salah seorang saudaranya, Yafed Nesimnasi yang berdomisili di Kapan Mollo Utara datang ke rumah Mikael untuk mengantar undangan pernikahan.

Saat tiba di rumah,ia melihat Mikael tidur tiduran karna sakit akibat pengeroyokan tersebut.Bahkan Mikhael saat itu tidak bisa berbicara.

“Saya datang bawa undangan,namun saya liat dia sedang sakit bahkan tidak bisa omong. Setelah saya cari tau ternyata dia dipukuli”,ujar Yafed saat mendampingi Mikhael memberikan keterangan kepada penyidik Polres TTS, Jumat 19 November 2021.

Yafed kemudian membawa Mikhael menuju kantor desa untuk melaporkan kejadian tersebut.

Namun saat tiba di kantor desa,ia diarahkan untuk melaporkan hal tersebut ke Polres TTS mengingat kondisi Mikhael sangat kritis saat itu.

Kasat Reskrim Polres TTS, AKP Mahdi Dejan Ibrahim yang didampingi Kanit Pidum Yanri Tlonaen mengaku penyidik sudah memanggil pihak terkait untuk dimintai keterangan.

Salah satunya adalah Kepala desa namun mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut.”Pihak terkait kita panggil lagi besok, yang jelas proses tetap berjalan”,ujarnya.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.