oleh

Kabupaten TTS Tertinggi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di NTT

-Berita-235 Dilihat

Ket. Foto: Kabid PPA, Dinas P3A Kabupaten TTS, Andy Kalumbang

Laporan Reporter SUARA TTS. Com        Dion Kota.

SUARA TTS.COM | SOE – Berdasarkan Data Sistem Informasi Online (SIMPONI) Tahun 2022, dari Januari hingga Maret,  TTS tercatat sebagai Kabupaten dengan angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tertinggi di NTT. Mayoritas kasus terjadi merupakan kasus persetubuhan anak yang dilakukan oleh orang dekat korban.

Kepala Dinas P3A Kabupaten TTS, Linda Fobia yang dikonfirmasi melalui Kabid PPA, Andy Kalumbang menjelaskan, data SIMPONI dikelola oleh Dinas P3A dan Yayasan Sanggar Suara Perempuan (SSP) berdasarkan laporan yang masuk ke masing-masing lembaga. Per Maret, Kabupaten TTS tertinggi dengan mencatat 57 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Diikuti Kota Kupang 53 kasus dan kabupaten Kupang 24 kasus.

” Kita TTS Tertinggi di NTT untuk angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang didominasi kasus persetubuhan anak,” ungkap Andy kepada SUARA TTS, Sabtu 2 April 2022.

Selain kasus persetubuhan anak, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di antara, kasus pencabulan anak, KDRT, penganiayaan, pengeroyokan anak, percobaan pemerkosa dan ingkar janji menikah.

Setiap laporan yang masuk ke Dinas P3A dikatakan Andy, langsung ditindaklanjuti dengan melakukan pendampingan dan memfasilitasi korban untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan juga mendampingan untuk proses hukum.

” Kita mendampingi korban hingga inkrah pengadilan. Kita juga menyediakan rumah aman, makanan dan biaya transportasi untuk korban selama proses hukum,” ujar Andy.

Ditanya terkait tantangan dalam melakukan pendampingan, Andy mengatakan, jarak yang jauh menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, kultur masyarakat yang masih malu dan takut jika berurusan dengan hukum menjadi tantangan lainnya.

” Kebanyakan korban ini memilih diam dan menyelesaikan persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak secara adat atau kekeluargaan. Korban juga takut jika nantinya dikucilkan oleh lingkungan tempat tinggal jika masalah tersebut dibawa ke ranah hukum,” terangnya.

Oleh sebab itu, peran serta semua pihak, masyarakat, gereja dan lembaga pendidikan sangat penting dalam memberikan semangat kepada korban agar berani dan kuat melewati proses hukum.

” Kita berharap masyarakat, gereja dan lembaga pendidikan harus menjadi penyemangat untuk korban. Karena korban kekerasan terhadap perempuan dan anak khususnya persetubuhan anak, pencabulan dan percobaan pemerkosa biasanya mengalami troma psikis,” sebutnya.(Editor : Erik Sanu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.