oleh

Hidup Tanpa Anus dan Pelukan Ibu, Begini Kisah Bayi Asal Desa Pika TTS

-Berita-279 Dilihat

Ket Foto : Marta Tapatab dan Ayahnya Nikson Tapatab

Laporan Reporter SUARA TTS .COM

SUARA TTS .COM | SOE –Perjuangan panjang nan berliku keluarga Marta Tapatab (8 bulan) bayi yang lahir tanpa dubur (Atresia Ani) asal desa Pika, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) akhirnya terjawab.

Marta mulai rawat inap di Rumah Sakit Leona Kupang Jumat,27 November 2021 dan dilakukan tindakan operasi keesokan harinya.

Sebelumnya bayi yang sudah tidak memiliki ibu ini dirawat di Puskesmas Binaus kemudian dirujuk ke RSUD Soe. Setelah 3 bulan Marta dirujuk lagi ke RSU W. Z Yohanis dan direkomendasikan untuk operasi di RS Leona.

Putri pasangan Nikson Tapatab dan Ana Oematan beralamat di Desa Pika RT 01/RW 01 ini lahir sejak bulan Maret 2021 lalu.

Ketua Yayasan Berbagi Kasih TTS, Erna Manafe mengaku senang bayi Marta akhirnya dioperasi.

Pasalnya berbagai upaya dilakukan dan sempat membuat dirinya kesal namun karna tanggung jawab membuat dirinya tak putus asa.

Ket foto : Nampak Suasana usai operasi di Rumah Sakit Leona Kupang

“Akhirnya selesai Operasi juga, menunggu pulih dan lanjut operasi penutupan lubang kolostomi lagi..

Sabar yah ‘Nak…. tinggal selangkah lagi kamu akan sembuh dan aktifitas seperti anak normal lainnya. Terima Kasih Nakes dan management RS Leona yang dengan sigap menangani pasien”,demikian unggahan status Facebook Erna Manafe setelah operasi tahap pertama selesai.

Sementara itu Nikson Tapatab kepada Suara TTS .com mengisahkan istrinya melahirkan bulan Maret 2021 dan saat itu keduanya tidak mengetahui jika bayi mereka mengalami kelainan.

“Setelah lahir kita belum tau dan anggap biasa namun saat 40 hari baru tau jika Marta punya kelainan”,ujar Nikson.

Sejak saat itu ia mulai berdoa agar suatu waktu putrinya bisa berobat.

Dirinya kemudian melaporkan hal tersebut kepada Tenaga Kesehatan Desa (TKD).

Selain berdoa, Nikson mencoba menginformasikan kepada salah satu anggota DPRD TTS minta jalan keluar.

“Saya minta jalan ke anggota dewan namun dijawab bahwa sampaikan ke Bupati TTS  dan sampai sekarang tidak informasi lagi”,ujarnya.

Dalam pergumulan dan usaha yang dilakukan,istrinya Ana Oematan dipanggil kembali menghadap Sang Khalik pada bulan Juli lalu.

Nikson pun berperan ganda merawat putrinya sambil berusaha untuk berobat meski hidup dalam ekonomi yang serba kekurangan.

Bayi Marta pun dibawa berobat ke puskesmas kemudian dirujuk ke RSUD Soe,dirinya mendapat penjelasan bahwa perlu tindakan operasi terhadap putrinya tersebut.

“Saya dengar penjelasan dari dokter bahwa harus operasi dan disitu saya berpikir mustahil karena butuh banyak uang. Namun saya diberikan nomor telepon, setelah saya hubungi ternyata yang menjawab adalah ibu Erna dari Yayasan Berbagi Kasih TTS yang akhirnya mengurus segala administrasi dan pendampingan untuk operasi, Puji Tuhan,saya sangat bersyukur”, kisah Nikson.

Kini bayi mungin dan atraktif ini sudah selesai operasi tahap pertama dan menunggu pulih. Setelah itu dilanjutkan operasi penutupan lubang kolostomi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.