oleh

Enterpreneur Muda Perlu Dibentuk Guna Melestarikan Tenun NTT

Ket Foto. Nampak salah satu siswa mengikuti program Teaching Factory 

Laporan Reporter SUARA TTS.COM

SUARA TTS.COM | Kupang – Berdasarkan data dari Dewan Kerajinan dan Kesenian Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTT tercatat sekitar 637 motif kain tenun NTT.

Kekayaan intelektual masyarakat NTT yang begitu banyak harus bisa dilestarikan. Wakil Ketua Dekranasda NTT, Maria Fransiska Djogo meminta agar tenun NTT masuk dalam kurikulum sekolah. Hal itu sebagai upaya melestarikan warisan perempuan NTT.

“Saya berharap agar nantinya warisan budaya NTT ini bisa masuk dalam kurikulum pendidikan sekolah, sehingga bisa tetap terjaga kelestariannya,” kata Maria, Minggu (26/6/2022) saat menyambut rombongan muhibah budaya jalur rempah di kantor Dekranasda NTT.

Upaya melestarikan budaya leluhur sudah dimulai oleh SMKN 4 Kupang. Melalui jurusan karya tekstil yang didalamnya terdapat kompetensi tenun ikat, sekolah tersebut tidak hanya melatih menenun, namun juga membentuk entrepreneur baru.

Ket Foto.Nampak berbagai macam tenunan.

Kepala SMKN 4 Kupang, Semy Ndolu kepada wartawan akhir pekan lalu menjelaskan, siswa di jurusan tenun ikat juga dilatih menjahit pakaian, tas maupun membuat sovenir berbahan dasar tenunan.

Untuk memberikan pemahaman berbisnis bagi para siswa, sekolah mengadakan program teaching factory. Semy mengatakan, ini adalah sebuah program belajar berbasis industri yang sudah dilakukan sejak 2017.

Sejumlah produk yang dihasilkan dari program tersebut dipajang saat kunjungan rombongan muhibah budaya jalur rempah di sekolah tersebut.

Semy menjelaskan, sejumlah program yang dijalankan dalam upaya melestarikan tenun NTT membuka peluang kerja bagi peserta didiknya. Mereka setelah selesai masa studinya, ada yang membuka usaha sendiri, ada yang diminta bekerja di perusahaan atau komunitas tenun ikat dan ada pula yang melanjutkan studi di jurusan tenun ikat Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

“Kami berharap, anak-anak ini setelah mereka memiliki produk, pasar bisa menerima produk mereka,” jelas Semy.

Melalui program teaching factory, ujar Semy, sekolah memberi kesempatan belajar bagi para siswa untuk mengetahui kebutuhan pasaran. Mereka belajar langsung dari para pelaku bisnis sehingga membuka wawasan mereka agar kelak diharapkan mampu membuka usaha sendiri.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Pendidikan Kemendikbudristek, Yudi Wahyudin mengatakan, kebudayaan jangan dipandang sebagai sesuatu yang primitif. Karena itu, kebudayaan perlu dilestarikan oleh generasi muda.

“Jangan menganggap tradisi itu sesuatu hal yang primitif. Karena para leluhur berkarya dan menjaga budaya itu sejak lahir. Jadi melalui budaya diharapkan kita semua bisa bersatu,” ujarnya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.