oleh

Dukung Romo Watimena, Ketua Pemuda Katolik TTS Kecam Aksi Kades Noemuke

-Berita, Hukrim-1063 Dilihat

Ket Foto. Lexi Tamonob

Laporan Reporter SUARA TTS.COM

SUARA TTS.COM | SOE – Ketua Pemuda Katolik (PK) Kabupaten TTS, Lexi Tamonob mengecam aksi dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Kades Noemuke, Semrya Lette kepada Romo Yerimias Johanes Watimena saat membagian BST beberapa waktu lalu. Menurutnya, aksi Semrya tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap pemimpin umat Katolik. Sambutan bernada menghina, mengancam dan memberikan dikotomi pendatang jelas-jelas sangat melecehkan Romo Watimena.

” Kita sangat sesalkan sikap Kepala Desa Noemuke tersebut. Kita akan mengawal kasus ini dan memberikan dukungan kepada Romo Watimena,” ungkap Lexi.

Lexi mengaku, dirinya memiliki rekaman saat Kades Noemuke mengeluarkan kata-kata kasar, ancaman dan memberikan stigma pendatang. Ia lalu menceritakan isi rekaman tersebut dan menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Sedikitnya ada 6 pernyataan Kades Noemuke yang diduga melecehkan Romo Watimena.

1. Pendatang dari hutan jangan kentut karena kita dapat baunya saja (Kaes Fui,In Kais Hem He Nas kui kit ,Hit Ala tnenah Sui Fon).

2. Pendatang saya bisa banting kasih mati (Kaes Fui Au Fit ana  he Fasen isan)

3. Bapak, mama kalau pendatang yang tegur, banting kasih mati baru saya ikut bapak mana ke kantor polisi. Dan silakan siapa mau memberitahu itu pendatang (Bapak Mama  sekau es hen tegur ki mhajar He au u tui ki neu polisi ..Au To sin au uab on lai  me es hen nao he Etun le Kaes Fui  tam Nao).

4. Pendatang hutan itu doa tidak tahu apa-apa, saya bisa banting kasih mati dia( Hena Au Fit ana He pesek itu Natuin in kana Hin Fe se’sah at in na uab kun).

5. Pendatang hutan mukanya seperti tempurung pecah (kaes Fui Human on Paun un apeat).

6. Di sini kita punya kampung, pendatang jangan datang atur-atur kita di sini. Kita usir itu pendatang (Hit kuan es kais Nem hen kala pi on Hit kat Fen he Tliu tak lati ef)

” Kita dengar itu bahasa kita sakit pemimpin kita dibuat begitu. Tapi kita tetap percayakan kasus ini kepada pihak kepolisian. Kita berharap dalam waktu dekat pihak kepolisian bisa menetapkan tersangka dalam kasus tersebut,” ujarnya.

Sebagai Ketua Pemuda katolik TTS dirinya menghimbau kepada umat para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda di TTS untuk TIDAK memprovokasi masyarakat dan umat demi terciptanya keamanan, kedamaian karena kasus Pencemaran nama baik Romo Jhon sudah diproses di tingkat kepolisian.

” Saya menghimbau semua komponen agar bisa menahan diri dan tidak memprovokasi orang lain. Kita percayakan kasus ini kepada pihak kepolisian,” sebutnya.

Terpisah, Kades Noemuke, Semrya Lette membantah jika kata-kata dalam sambutan tersebut diutarakan untuk Romo Watimena. Menurutnya, dalam sambutannya ia tidak pernah menyebut nama Romo Watimena.

Dirinya beralasan jika saat ini di Noemuke sudah banyak pendatang yang masuk dan suka menghasut atau berbuat onar. Bahkan beberapa hari lalu, ada pendatang dari Desa Kelle yang datang berkelahi dengan orang Noemuke.

Sebagai pemerintah dirinya hanya

memberikan arahan agar masyarakat mengerti bukannya ia menghasut masyarakat.

” Saya tidak tujukan kata-kata itu pada Romo Watimena. Namun saat ini memang banyak pendatang yang datang ke Noemuke dan berbuat onar. Saya hanya memberikan arahan untuk masyarakat saya. Kata-kata itu bukan untuk Romo Watimena,” bantahnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Noemuke, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, Semrys Oryanty Lette kembali diadukan ke Polres TTS terkait dugaan pencemaran nama baik oleh Romo Yeremias Yohanes Watimena, Sabtu 5 Februari 2022. Laporan polisi ini merupakan kasus hukum kedua yang dihadapi oleh sang Kades yang merupakan istri dari anggota DPRD Kabupaten TTS, Hendrikus Babys. Kasus pertama, sang Kades diadukan atas dugaan penganiayaan dengan korban Apders Seo. Kasus ini sendiri hingga saat ini masih ditangani Reskrim Polres TTS.

Kepada SUARA TTS.COM, Romo Watimena bercerita, kasus dugaan pencemaran nama baik ini bermula pada 18 February 2022 ketika dirinya menegur sejumlah warga Noemuke yang melakukan pembersihan di wilayah batas antara Desa Naip dan Desa Noemuke. Romo Watimena sengaja melakukan hal tersebut untuk mencegah konflik antara warga dua desa bertetangga tersebut. Pasalnya, masalah batas wilayah antara Desa Naip dan Desa Noemuke hingga saat ini belum tuntas. Sesuai kesepakatan bersama pada 30 Desember 2021, warga dua desa tersebut tidak boleh melakukan aktivitas apa pun di wilayah batas sampai masalah batas selesai.

Kekhawatiran Romo Watimena terbukti, karena tak lama setelah diingatkan, sejumlah warga Naip mendatangi wilayah batas yang bermasalah tersebut. Beruntung saat itu, warga Noemuke sudah berpindah ke bagian bawah.

Teguran Romo Watimena ini diduga sampai ke telinga Sang Kades Noemuke.

Pada Jumat 4 Maret 2022 saat pembagian BST di kantor desa, sang kades mengeluarkan pernyataan di hadapan ratusan penerima BST, ” orang pendatang angkat dia punya ekor panjang kayak dia punya pantat lubang, dia punya muka kayak tempurung kelapa picah. Mama-mama kalau kita bersihkan jalan dimana kalau orang pendatang larang lagi, mama-mama langsung kasih picah dia punya kepala, bisa mati memang. Mama-mama duluan ke polisi nanti baru mama desa ikut ke pos polisi”.

Romo Watimena menyebut ungkap tersebut diutarakan Kades Noemuke untuk dirinya. Pasalnya yang menegur masyarakat saat melakukan aksi pembersihan itu adalah dirinya. Selain itu, Romo Watimena merupakan pendatang di Desa tersebut. (DK)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.