oleh

Dipolisikan Terkait Produk Berita, Judith Taolin : Tidak Tepat Sengketa Pers dibawa Ke Polisi

-Berita, Hukrim-301 Dilihat

Ket Foto : Judith D. Lorenzo Taolin

Laporan Reporter SUARA TTS .com

Suara TTS .com | Kefa – Judith D. Lorenzo Taolin, dilaporkan oleh Agustino Mario Fernandes, anak mantan Bupati Timor Tengah Utara (TTU) 2 periode, Raymundus Sau Fernandes atas dugaan pencemaran nama baik.

Laporan itu tercatat di Polres TTU dengan Nomor laporan : B / 1015 / XI/Res.2.5/2021/Reskrim tertanggal 08/09/2021.

Menanggapi undangan klarifikasi pihak Kepolisian, Jude sapaan akrab Judith D.Lorenzo Taolin mengatakan bukan baru pertama kalinya ia dipolisikan.

“Laporan yang masuk ke sana (Polres, red) terhadap saya, bukan baru kali ini. Pernah ada juga laporan atas tuduhan pencemaran nama baik oleh seorang pengusaha kayu namun tidak ditindaklanjuti lantaran ijin usaha beberapa pengusaha dicabut dan terbukti mengambil kayu dari dalam kawasan hutan lindung . Kali ini laporan dari Mario, anak mantan Bupati TTU”,ujar Jude.

Tudingan pencemaran nama baik ini bermula dari pemberitaan di salah satu media online terkait keributan, pengancaman dengan menggunakan senjata tajam oleh pihak Raymundus Fernandes dan perampasan motor milik seorang pemuda pada September lalu yang baru dikembalikan Jumat (26/11/2021).

Dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh Mario Fernandes di desa Haulasi Kecamatan Miomafo Barat Kabupaten TTU diterbitkan berdasarkan keterangan para korban Milikheur Taeki Nahas dan sejumlah narasumber yang menyatakan bertanggungjawab atas apa yang dilihat dan dirasakan di TKP.

Namun beberapa saat setelah berita itu tayang di media online, ada klarifikasi dari Ray yang mengaku, isi berita tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.
“Itu bukan anak saya, melainkan saya ditemani seorang anak buah saya”, bantah Ray.
“Itu fitnah”, lanjutnya.

Meski sudah memuat hak jawab hasil konfirmasi via telepon seluler, pihaknya tetap bertekad menempuh jalur hukum.

Jude pun membeberkan, setelah tiga orang saksi diperiksa atas laporan Mario, barulah dirinya menerima surat dari polisi.

“Saya sendiri yang terima surat dari polisi. Hari Jumat lalu saya sudah ke Polres”, jawab Jude kepada sejumlah media.

“Ini surat panggilan ditujukan ke saya, Judith D.L.Taolin. Secara pribadi, saya tidak punya masalah dengan pelapor. Kalau ini kaitannya dengan pemberitaan, saya juga mempertanyakan kewenangan polisi melayangkan surat undangan klarifikasi ke saya menyangkut produk berita”, tanya Jude.

Ia menyarankan polisi membaca lagi Nota Kesepahaman antara Dewan Pers dengan Kepolisian Negara RI.
Nota kesepahaman itu tentang Koordinasi Dalam Perlindungan Kemerdekaan Pers pada 2017.

Dikatakan Jude, kerja-kerja jurnalistik dilindungi Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, seperti diatur dalam Pasal 8. Sedangkan pemidanaan terhadap dirinya karena karya jurnalistiknya.

“Kalau saya diperiksa polisi, bisa jadi saya menilai salah satu upaya pembungkaman terhadap pers”ujarnya.

Jude mengatakan ini termasuk kekerasan terhadap jurnalis dan dapat dijerat pasal pidana.
“Siapapun yang melakukan kekerasan terhadap jurnalis, baik secara fisik ataupun verbal dapat dijerat pasal pidana yang diatur dalam Pasal 18 UU Pers dengan ancaman dua tahun penjara atau denda Rp500 juta,” terang Jude.

Tidak hanya mengingatkan terkait pasal pidana di atas, ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk menempuh mekanisme penyelesaian seperti menggunakan hak koreksi dan hak jawab, jika merasa pemberitaan tidak sesuai fakta.

Melalui kejadian ini Jude meminta kepada masyarakat yang merasa dirugikan terkait pemberitaan supaya menempuh mekanisme penyelesaian sesuai yang diatur dalam UU Pers. Yakni meminta hak jawab, hak koreksi, melapor ke media yang bersangkutan atau ke Dewan Pers.

Jangan pakai gaya preman berhadapan dengan media apalagi mengancam dan menakuti – nakuti akan memidanakan seorang jurnalis di media sosial.

Kepada pihak Kepolisian, Jude menjelaskan bahwa berita yang ditulisnya sudah memenuhi kaidah- kaidah jurnalistik dengan mengkonfirmasi isu yang diterima ke pihak terkait.

“Jadi pelaporan atas diri saya salah alamat dan berpotensi mencederai kebebasan pers dengan menggunakan “Pasal Karet”. Pencemaran nama baik tidak bisa di benarkan terlebih pemberitaan tersebut bersumber dari konfirmasi,” katanya, Rabu (08/12/2021).

Ia kembali  menganjurkan kepada Satreskrim Polres TTU untuk membaca kembali regulasi regulasi yang berkaitan dengan kerja-kerja jurnalistik.

“Sebagai mitra, saya meminta pihak kepolisian membaca kembali regulasi – regulasi yang berkaitan dengan kerja jurnalistik. Sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari masyarakat terhadap aparat yang lebih fokus pada pengusutan persoalan yang menimpa mereka yang memiliki kedudukan atau kuasa”, pungkas Jude.

Jude mengaku sudah menjelaskan mekanismenya ke penyidik dengan tujuan untuk tetap menjaga kemitraan yang selama ini terjalin baik.
“Apa yang saya sampaikan ke penyidik, semata-mata untuk menjaga kemitraan yang selama ini terjalin baik. Saya tidak mau dibenturkan dengan mitra dari Kepolisian hanya karena ada kepentingan orang luar”, ungkap Jude.

Kasat Reskrim Polres TTU, Iptu Fernando Oktober S.Tr, K, saat dikonfirmasi membenarkan adanya surat undangan klarifikasi tersebut.

Kasat Fernando mengakui undangan tersebut hanya bersifat klarifikasi dan tidak memilik tujuan-tujuan yang bersifat membungkam profesi jurnalistik.

Lebih lanjut disampaikan bahwa surat tersebut dikeluarkan berpijak pada pengaduan yang disampaikan pelapor kepada Polres TTU.
“Kita meminta klarifikasi untuk mengetahui arah laporan tersebut. Jika itu berkaitan dengan pemberitaan maka kasus itu tidak bisa dilanjutkan atau ditutup,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, terjadi keributan dan perampasan motor di jalan umum desa Haulasi antara mantan Bupati TTU, Raymundus Fernandes, seorang pemuda diduga anaknya yang ikut turun dari mobil membawa sebilah klewang (pedang), Selasa (07/09/2021) malam.

Berdasarkan pengakuan korban, Milikheur Taeki Nahas dan dua saksi lainnya Alexander Muki dan Thom, anak mantan bupati, Mario Fernandes merampas motor mereka.

Setelah insiden perampasan motor, diselesaikan secara damai dan bayar denda ke korban. Motor baru dikembalikan Jumat (26/11/2021).

Sebelum motor dikembalikan, korban disuruh oleh Raymundus ke Polres menghadap Agus untuk mengambil motor. Ternyata sesampainya disana, motor tidak dikembalikan tapi mereka diperiksa tanpa surat panggilan.
Dan motor itu baru dikembalikan tanggal 26 setelah memberi keterangan.(Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar