oleh

Di TTS, Wajah Buruk Sekolah Negeri Ditata GKI dan Pospera TTS

-Berita-193 Dilihat

Ket. Foto: Nampak bangunan sekolah SD Negeri Tuatenu sebelum dan sesudah “disentuh” GKI dan POSPERA TTS.

Laporan Reporter SUARA TTS .Com

SUARA TTS. COM | SOE – Sempat viral di media sosial lantaran bangunannya yang memprihatinkan, bukan menjadi jaminan akan segera diperhatikan pemerintah. Tengoklah SD Negeri Tuatenu, di Desa Oekiu, Kecamatan Amanuban Selatan yang sempat viral di tahun 2020.

Sempat dikunjungi mulai dari Kadis Pendidikan hingga Bupati, tak menjadi jaminan sekolah tersebut akan secepatnya mendapat perhatian serius.

Nyatanya, yang mengubah wajah sekolah negeri tersebut bukanlah pemerintah melainkan Yayasan Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) yang bekerja sama dengan Pospera Kabupaten TTS.

GKI memberikan bantuan bahan bangunan, sedangkan Pospera menjadi pekerja bersama dengan masyarakat setempat.

Saat ini, sudah ada tiga ruang belajar yang selesai dibangun dan sudah bisa dimanfaatkan.

” Kita berterima kasih kepada GKI yang sudah memberikan perhatian kepada wajah pendidikan negeri di Kabupaten TTS khususnya SD Negeri Tuatenu. Saat ini, tiga ruang kelas sudah selesai dibangun,” ungkap Yeiem Fallo, Ketua Pospera Kabupaten TTS kepada SUARA TTS. COM, Jumat 19 November 2021.

Tanggal 30 November mendatang, 45 set kursi dan meja untuk SD Negeri Tuatenu akan selesai dikerjakan dan langsung diantar. Hal ini untuk menunjang kenyamanan proses KBM.

” Selain bangunan, ada juga bantuan berupa kursi dan meja. Tanggal 30 kita antar nanti,” ujarnya.

Selain membangun ruang belajar, nantinya GKI bersama Pospera TTS juga akan membangun aula dan ruang guru.

” Nanti kita bangun aula dan ruang guru juga di SD Negeri Tuatenu,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya,

Kondisi SD Negeri Tuatenu, Desa Oekiu, Kecamatan Amanuban Selatan sangat memprihatikan.

Bangunan sekolah negeri tersebut masih berbentuk bangun darurat dan kondisinya nyaris roboh.

Atap bangunan tersebut masih berupa daun gewang dan dindingnya masih menggunakan bebak bercampur papan dan kayu bulat. Sementara lantainya masih beralas tanah.

Bangun sekolah tersebut sebenarnya tak layak untuk digunakan sebagai lokasi kegiatan belajar mengajar ( KBM).

Walaupun fasilitas penunjang KBM sangat terbatas, tapi semangat anak-anak untuk bersekolah sangat tinggi. Walau harus belajar dibangunan darurat, hal itu tak menyurutkan semangat mereka untuk mengejar ilmu. (DK)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.