oleh

Di TTS, Ada Oknum Tokoh Agama Terjerat Kasus Kekerasan Seksual

-Berita, Hukrim-345 Dilihat

Ket Foto. Nampak suasana bincang bincang tentang kekerasan seksual yang diadakan YSSP Soe

Laporan Reporter SUARA TTS .Com

SUARA TTS .COM | SOE – Oknum tokoh agama di Kabupaten TTS (pendeta dan majelis) diketahui menjadi pelaku kasus Kekerasan Seksual terhadap perempuan. Mirisnya yang menjadi korbannya adalah jemaat dari pelaku sendiri.

Hal ini diungkapkan oleh Kabid PPA, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas P3A) Kabupaten TTS, Andy Kalumbang dalam acara Ngobrol santai tentang Kekerasan seksual yang digelar Yayasan SSP, Jumat 3 Desember di aula SSP.

Dirinya tidak membuka secara jelas identitas oknum pendeta tersebut, namun ia menyebut ada dua oknum pendeta yang terjerat kasus tersebut yang sementara ditangani pihak Polres TTS.
” Pelaku kekerasan seksual ini tidak hanya orang dekat ( orang tua, kakek atau pacar) tapi ada juga kasus dimana pelakunya merupakan tokoh agama. Ada yang merupakan pendeta, majelis ada juga yang menjabat penatua,” ungkap Andy.

Minimnya pengawasan oleh orang tua dikatakan Andy, sebagai salah satu penyebab tingginya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan.

Orang dikatakan Andy saat ini lebih sibuk memperhatikan handphone ketimbang anaknya.
” Lihat prilaku orang tua saat ini, bangun pagi pasti yang dicek handphone dahulu. Bahkan ada juga orang tua yang memiliki lebih dari satu nomor. Mereka lebih sibuk memperhatikan handphone ketimbang memperhatikan dan mengawasi anak-anaknya,” ujar Andy.

Dari Januari sampai 1 November tahun 2021, Dinas P3A mencatat terjadi 95 kasus Kekerasan terhadap perempuan. Dimana 44 kasus korban masuk kategori dewasa dan 55 kasus lainnya dengan korban masih berstatus anak.

Dimana 41 kasus merupakan kasus persetubuhan terhadap anak perempuan.
” Kasus persetujuan anak menjadi kasus yang paling tinggi dari laporan yang kita terima. Hal ini tak lepas dari lemahnya pengawasan dan kontrol orang tua terhadap anak,” jelasnya.

Direktur Yayasan SSP, Rambu Atanau Mella menegaskan, pentingnya peran orang tua dalam menekan kasus tindak pidana kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

Orang tua dikatakannya perlu memberikan edukasi pendidikan seksual terhadap anak.
Selain peningkatan pengawasan orang tua, Rambu juga menekankan pentingnya kerja sama semua elemen mulai dari pemerintah yang memainkan peran utama, LSM, kepolisian, kejaksaan, Pengadilan, lembaga agama, perguruan tinggi, ormas, orang tua dan lembaga pendidikan dalam upaya mencegah dan menindak tegas pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan.
” Selama ini kita masih kerja masing-masing. Padahal jika kita mau menekan angka kasus kekerasan seksual terhadap perempuan, maka perlu kerja sama dan sinergitas semua elemen masyarakat. Ini menjadi PR bersama kita kedepannya,” terang wanita berkaca mata ini. (DK)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 komentar

  1. Mengapa Pelaku Pendeta itu tidak disebutkan namanya, Ada apa dibalik itu semua. Kasus kekerasan seksual semacam itu di muat secara tuntas biar publik tahu, jangan sudah tahu namun di diamkan. Budaya semacam ini jika diterapkan terus-menerus maka tidak heran kasus kekerasaan seksual terhadap perempuan akan terus meningkat. Jangan orang jahat dilindungi, percuma hanya mau nampung-nampung kasus namun tidak diatasi. Hukum harus tegas dalam melihat itu. Jangan selalu salahkan orang tua, karena orang tua mereka itu banyak kerja, Pendeta yang merupakan pemimpin agama itu yang seharusnya di kritisi dan di hukum karena telah melakukan kejahatan…Terima kasih

    1. Kan yang membuat masalah bukan hanya pendeta saja, kenapa hanya pendeta yang di hukum, sama saja komentar mu kesimpulannya memihak pada satu oknum.