oleh

Dampak Pemuridan Organik Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja.

-Berita, Opini-427 Dilihat

Oleh : Margarita D. I. Ottu, S.Pd.,M.Pd.K)

SUARA TTS.COM – Pemuridan organik dalam keluarga Kristen merupakan suatu langkah yang tepat untuk mencapai suatu tujuan mulia yang sudah dimulai dan dibangun di dalam Kristus.

Masa remaja adalah merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis, maupun secara intelektual.

Remaja pada dasarnya mempunyai rasa ingin tau yang besar, mempunyai petualangan serta cenderung berani menangggung resiko atas perbuatannya tanpa didahului oleh pertimbangan matang.

Bertalian dengan kondisi tersebut diatas, Dennis McCallum & Jessica Lowery mengatakan “Ketika kita mempercayakan hidup kepada Yesus, Allah menyatukan kita dengan Dia secara organik (indigenos).

Paulus mengatakan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1 Korintus 6:17). Ini bukan hanya sekedar ikatan institusional atau legal belaka. Ketika Allah menyatukan kita dengan Kristus, hidup kita terjalin begitu erat dengan kehidupan-Nya kaitan di antara kita menjadi sebuah jalinan yang hidup”.

Smith menekankan bahwa Kristus Yesus menginginkan agar setiap orang beriman memiliki kasih yang terbuka bagi orang lain untuk melakukan kehendakNya, tidak terkecuali dalam hal memuridkan orang lain.

Untuk bagian ini tidak terbatas kepada orang-orang dewasa dan non-Kristen. Bryan Smith juga memasukkan kategorial anak-anak yang mempunyai kompleksitas masalah baik kristen maupun anak-anak non-Kristen.

Kompleksitas masalah anak-anak remaja masa kini banyak dipengaruhi oleh penggunaan IPTEK yang sangat cepat perkembangannya yang sering kali tidak dapat dihindari.

Salah satunya, mengenai masalah kesehatan reproduksi remaja 10-24 tahun telah ditemukan fakta di lapangan.

Miswanto mengemukakan bahwa: “Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi relatif masih sangat rendah sebagaimana ditunjukkan oleh hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2007.

Sebanyak 13% remaja perempuan tidak tahu tentang perubahan fisiknya dan hampir separuhnya (47,9%) tidak mengetahui kapan masa subur seorang perempuan.

Adapun yang memprihatinkan kita semua adalah, pengetahuan remaja tentang cara paling penting untuk menghindari infeksi HIV masih terbatas.

Hanya 14% remaja perempuan dan 95% remaja laki-laki menyebutkan pantang berhubungan seks, 18% remaja perempuan dan 25% remaja laki-laki menyebutkan menggunakan kondom serta 11% remaja perempuan dan 8% remaja laki-laki menyebutkan membatasi jumlah pasangan (jangan berganti-ganti pasangan seksual) sebagai cara menghindar dari HIV/AIDS.

Dari fakta keadaan rendahnya pengetahuan tersebut di atas, penulis merasa bahwa menjadikan pendidikan kesehatan reproduksi remaja maka sangatlah penting untuk diberikan pemuridan secara organic dengan kata lain pemuridan tidak hanya berpedoman pada pemuridan secara institusi atau lembaga formal akan tetapi lebih kepada individu.

Hal ini jika tidak diperhatikan menurut Faoucault bisa merambah dan meluas kepada banyak aspek seperti hidup tanpa tujuan, pemaknaan dan penggunaan seks diluar aturan atau penyimpangan pemanfaatan tehnologi yang semakin maju.

Dennis McCallum & Jessica Lowery, “orang-orang Kristen masa kini sedang mengalami kesadaran baru akan kekuatan dari pendekatan organik dalam pelayanan; sebuah pendekatan yang kurang berfokus pada jabatan-jabatan di dalam gereja dan lebih berfokus pada relasi antar sesama.”

Dengan memberikan perhatian dalam bentuk pemuridan terhadap anak-anak, orang tua telah berupaya untuk memberi pendidikan Agama Kristen dengan baik. Pemuridan yang dimaksud mencakup banyak aspek kehidupan si anak, dari sekolah, menjaga dan mengatur waktu, hingga ranah penyembahan Allah yang benar.

Dalam kaitan penelitian ini dipilih segmen tersendiri yaitu kesehatan reproduksi. Pada usia ini anak-anak perlu diberikan bimbingan agar tidak salah dalam menggunakan alat reproduksi jasmani yang diberikan Allah.

Perilaku seksual berganti-ganti pasangan, aborsi tidak aman dan perilaku berisiko tertular Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV. Perilaku berisiko lain yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi antara lain “penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza)” dan perilaku gizi buruk yang dapat menyebabkan masalah gizi khususnya anemia.

Sehingga orang tua dapat mempersiapkan anak-anak remaja mereka untuk menjalani kehidupan reproduksi yang sehat dan bertanggung jawab yang meliputi persiapan fisik, psikis, dan sosial untuk menikah dan menjadi orang tua pada usia yang matang.

Serta menggunakan IPTEK dengan bijak, tepat guna dan bertanggung jawab. Sebab IPTEK tidak ada yang salah, namun justru si pengguna yang harus mengambil sikap dan bisa menguasai IPTEK bukan dikuasai oleh IPTEK itu sendiri.

Pemuridan Organik (Indegonous) Sipongan (gema) mengenai ‘Pemuridan Organik” memang jarang dibicarakan di dunia pelayanan di gereja, pelayanan di sebuah Lembaga Kristen, bahkan di dalam konteks Sekolah.

Tetapi jika diperhatikan dengan seksama Firman Allah dalam Alkitab maka akan tampak dengan jelas bagi bahwa ‘Pemuridan Organik’ adalah sesuatu yang menarik bagi seluruh aspek pelayanan Kristen.

Pada masa Perjanjian Lama sekolah nabi memberi gambaran yang jelas bahwa calon nabi yang dididik di sekolah nabi perlu terus dekat dengan sumber pengajaran itu setiap hari sehingga dapat memunculkan nabi yang berkualitas.

Upaya ini adalah organik, karena memeroleh pembinaan dan pemuridan dari sumber asli dan murni tanpa asupan dunia lain. Masa Perjanjian Baru juga memberi gambaran tidak berbeda. Yesus terus hidup bersama kedua belas murid dalam memberikan arahan yang murni dan sesuai kehendak Bapa.

Kedua belas murid hidup bersama, menjalankan misi bersama dan menghadapi banyak tantangan bersama sehingga murid memeroleh ajaran dari Sang Guru Utama tanpa dipengaruhi dunia (guru) lain.

Seperti tertulis dalam Alkitab:“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allah mu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

Apa yang telah Ku perintahkan pada mu pada hari haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

Harus juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan harus menjadi lambang di dahi mu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbang mu (Ulangan 6:4-9).”

Beranjak dari ayat Firman Tuhan di atas, maka penulis akan mengemukakan pengertian ‘Pemuridan Organik’ bertalian dengan ‘kesehatan reproduksi remaja usia 10-24 tahun secara kreatif tanpa harus bergantung pada kurikulum yang baku, hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Dennis McCallum & Lowery, mengatakan bahwa “Pemuridan Organik adalah suatu proses pemuridan yang kreatif.

Kami tidak akan menawarkan sebuah kurikulum atau rancangan pelajaran dalam proses pelaksanaan pemuridan.” Secara kreatif disini juga memberikan varian pemuridan yang dibutuhkan dengan pertimbangan zaman dan kondisi di lapangan yang dihadapi anak. Sehingga anak memeroleh ajaran dan pendampingan dalam rangkan pemuridan yang sesuai kebutuhan anak.

Sehingga dari dalam keluarga anak telah diajarkan hal-hal terkini yang akan dihadapi di dunianya, dengan terus mengandalkan kekuatan dan tuntunan Roh Kudus.

Benteng pertahanan pelayanan terhadap reproduksi kesehatan remaja 10-24 tahun tidak terlepas dari penerapan pengajaran Firman Allah yang terus menerus diajarkan kepada peserta didik baik dalam konteks pelayanan gereja, lembaga, Sekolah bahkan secara universal.

Karena itu, sangatlah perlu mengadakan ‘Pemuridan Organik” yaitu pemuridan yang akan dimulai, dilakukan dan dibangun secara internal menuju kepada pemuridan eksternal. Sehubungan dengan hal itu juga, Bill Hull mengatakan bahwa “Kekristenan tanpa kemuridan sama saja dengan kekristenan tanpa Kristus, tanpa kemuridan, tidak ada kekristenan, karena kemuridanlah yang menghidupkan iman Kristen”.

Murid disini berarti menjadi seperti guru, yang telah membina dan memberi pengajaran setiap hari. Karena kesehatan reproduksi adalah anugerah Allah kepada semua orang, bagian yang indah dalam jasmani, maka anak diajar untuk menjaga dan merawatnya agar sehat sedari kecil di dalam rumah.

Sehingga terbiasa menjaga kesehatan dan kekudusan alat repdroduksi sedari kecil yang kemudian yang menjadi habitus ketika besar, dewasa serta satu saat akan meninggalkan rumah orang tua untuk bekerja di daerah lain.

Oleh karena itu, jika berbicara tentang tentang Pemuridan Organik maka yang harus digarisbawahi bahwa pelaksanaannya harus dimulai dari konteks keluarga dengan menerapkan prinsip-prinsip Firman Tuhan bahwa harus memperhatikan setiap perintah-perintah Tuhan, kemudian harus mengajarkannya kepada anak-anak secara berulang-ulang pada waktu duduk di rumah, sedang dalam perjalanan, bahkan pada waktu berbaring dan juga pada waktu bangun.

Dengan demikian, dapat disebutkan sebagai sebuah terminology ‘Pemuridan Organik (endogenous)’ yaitu pemuridan yang dicetak dari dalam yang dimulai dari dalam keluarga dan bukan mencari orang hebat atau orang yang berpendidikan tinggi.

Selaras dengan hal itu, LeRoy Eims mengatakan bahwa orang-orang yang dipilih Yesus adalah orang-orang biasa, sederhana, tidak berpendidikan tinggi, penjala ikan, pemungut cukai, dan lain sebagainya dan pada saat Yesus memilih orang-orang yang Ia latih, Ia berdoa sepanjang malam (Lukas 6:12-13)”

Akhirnya, dapat dikatakan bahwa dampak ‘Pemuridan Organik’terhadap kesehatan reproduksi remaja usia 10-24 tahun akan lebih mendarat dalam kehidupan mereka karena pola pendekatannya lebih bersifat casual.

Terkait dengan hal itu, Ariono menjelaskan bahwa multiplikasi yang dilakukan Paulus bersifat pemuridan organik, yaitu suatu proses alamiah yang dilakukan terhadap hubungan-hubungan dalam komunitas secara alamiah, sehingga komunitas-komunitas tersebut melahirkan komunitas-komunitas baru.

Selanjutnya, Wolf Gang Simson menegaskan bahwa selama gereja mengandalkan metode dan strategi yang menghasilkan penambahan dan bukan multiplikasi, maka Amanat Agung untuk memuridkan seluruh bangsa tidak pernah akan tercapai.

Dampak Menggunakan IPTEK 

Dalam bagian ini penulis akan membahas tentang dampak penggunaan IPTEK masa kini terhadap kesehatan reproduksi remaja usia 10-24 tahun. Adapun penulis akan mulai membahas situasi dan kondisi daripada kesehatan reproduksi anak remaja usia 10-24 tahun. 

Dan baru selanjutnya penulis akan menjelaskan tentang dampak penggunaan IPTEK masa kini dari sisi positif dan negatifnya.

Data mengenai situasi kesehatan reproduksi remaja sebagian besar bersumber dari Survei Demografi dan Kesehatan terutama komponen Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), dengan mewawancarai remaja usia 15-24 tahun dan belum menikah.

Pada remaja usia 15-19 tahun, proporsi terbesar berpacaran pertama kali pada usia 15-17 tahun. Sekitar 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki-laki yang berusia 15-19 tahun mulai berpacaran pada saat mereka belum berusia 15 tahun.

Pada usia tersebut dikhawatirkan belum memiliki keterampilan hidup (life skills) yang memadai, sehingga mereka berisiko memiliki perilaku pacaran yang tidak sehat, antara lain melakukan hubungan seks pra nikah.

Selanjutnya, resiko yang terjadi adalah terjadinya pernikahan dini dikarenakan desakan kondisi permanen sehingga kedua belah pihak terpaksa bermufakat untuk mengambil alih melakukan “pernikahan dini” sebagai salah satu solusi tuntutan hukum.

Dari survei yang sama didapatkan alasan hubungan seksual pranikah tersebut sebagian besar karena penasaran/ingin tahu (57,5% pria), terjadi begitu saja (38% perempuan) dan dipaksa oleh pasangan (12,6% perempuan).

Hal ini mencerminkan kurangnya pemahaman remaja tentang keterampilan hidup sehat, risiko hubungan seksual dan kemampuan untuk menolak hubungan yang tidak mereka inginkan.

Fakta inilah yang membuat penelitian ini menjadi penting untuk keluarga-keluarga Kristen khususnya dalam membangun anak-anak yang sehat dan sadar kesehatan reproduksi sedari kecil.

Sesuai program BKKBN yaitu pendewasaan usia perkawinan dimana usia minimal seorang perempuan menikah usia 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Batasan usia tersebut dianggap sudah siap menghadapi kehidupan keluarga dipandang dari sisi kesehatan dan perkembangan emosional.

Kemudian bila melihat bagan reproduksi sehat usia aman wanita melahirkan pada usia 20 tahun dan mengakhiri kelahiran pada usia diatas 35 tahun (BKKBN, 2013). Sebab perempuan menikah dibawah 20 tahun memiliki dampak yang cukup luas baik dari sisi biologis maupun psikologis.

Seperti hasil penelitian Minarni, Andayani, & Haryani (2014) bahwa dampak biologis dari pelaksanaan pernikahan dini dapat terjadi anemia pada ibu hamil, keguguran, pre eklampsia, infeksi, kanker rahim dan paling fatal kematian ibu dan bayinya. Kemudian dampak psikologisnya dapat menimbulkan terjadinya kecemasan, stress, depresi dan perceraian.

Maka daripada itu perempuan harus memiliki perencanaan yang baik tentang usia menikah agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan pada diri sendiri baik dari segi kesehatan maupun psikisnya.

Dengan demikian, pilihan terbaik sebagai individu, baik anak-anak, remaja pemuda, dan kaum dewasa sekalipun harus bersikap selektif, bijak, dan bertanggung jawab dalam penggunaan IPTEK yang ada. Sebab IPTEK adalah bagian daripada media.

Artinya IPTEK menjadi baik atau jahat itu tergantung siapa pengguna dan untuk apa IPTEK itu digunakan. Abraham juga memberikan pemaparan bahwa kalau kembali kepada natur manusia pada hakekatnya adalah berdosa, jahat dan bahkan sudah bejat total.

Oleh sebab itu tidak ada yang salah dengan IPTEK, namun kembali kepada siapa yang mengkonsumsi IPTEK itu sendiri dan untuk kepentingan apa IPTEK tersebut digunakan.

Pemuridan organik menjadi salah satu upaya gereja yang strategis untuk memberikan didikan holistik yang tepat sedari anak-anak di rumah. Memberikan bimbingan kepada anak untuk semua aspek adalah tanggung jawab bersama baik orang tua maupun Gereja demi membentuk jemaat yang serupa Kristus.

Sondopen juga memberikan penekanan bahwa menjadikan murid adalah tanggung jawab bersama elemen Kristen untuk menyebarluaskan Kabar Baik bagi segala makhluk.

Pada masa masuknya Gereja ke Asia Timur, di Jepang misalnya, pernah terjadi hal yang sama dengan memuridkan para remaja anak-anak dari tokoh Samurai untuk membina menjadi remaja Kristen yang sejati. Dengan pembinaan yang intensif, remaja tersebut dibina, diberi contoh kehidupan nyata kristiani sehingga remaja bertumbuh dalam kebenaran Firman dengan benar.

Kemudian berdampak pada penghargaan terhadap kehidupan seksual yang murni, terhadap dengan kudus sampai pada pernikahan suci di gereja. Cara ini akhirnya memberikan warna kekristenan yang baik di di kemudian hari.

Disamping itu, sikap dan kerjasama gereja dengan orang tua masih terus dijaga dengan persepsi yang sama berdasarkan Firman Tuhan. Selaras dengan hal itu, Dennis McCallum & Jessica Lowery menguraikan bahwa ‘Pertumbuhan Organik mengambil bentuk sel-sel yang dinamis dan bermultiplikasi, berbeda dengan pendekatan linier yang dibatasi dengan sekolah-sekolah teologi, gelar, iklan dan bahkan bangunan.

Sama seperti sel yang hidup menduplikasi diri mereka sendiri secara eksponensial, tubuh Kristus berkembang ke segala arah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Dampak Pemuridan Organik Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja Usia 10-24 Tahun Dalam Menggunakan IPTEK masa kini, maka para penulis dapat menyimpulkan bahwa Pemuridan Organik tersebut hanya bagaikan pelisit jika dibandingkan dengan program-program formal yang sudah tersohor.

Akan tetapi jika diskusi studi mengenai Pemuridan Organik tentu dapat menginspirasikan para pembaca serta dapat memberikan motivasi bagi orang tua, bagi pelayanan gereja, pelayanan Lembaga dan pelayanan dalam konteks Sekolah dalam menghadapi jaman Ilmu Pengetahuan & Teknologi masa kini.

Dalam situasi pedologi remaja Usia 10-24 tahun masa kini adalah masa perkembangan yang nyata di mana peran orang tua, peran gereja, peran lembaga dan peran Sekolah akan menentukan kualitas pertumbuhan kesehatan reproduksi remaja usia 10-24 tahun yang beriman,berakhlak tinggi demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Karena itu para penulis memberikan saran kepada para tenaga Pendidik, Pendeta, bahkan para narasumber lainnya untuk mendidik remaja mereka menurut jalan yang patut bagi mereka, maka pada masa tuannya pun tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6), dengan sebuah ekspektasi kepada remaja usia 10-24 tahun dalam membangun kesehatan reproduksi akan mengalami seluruh kasih karunia Allah dalam setiap aspek kehidupan mereka dengan takut akan Tuhan serta memperoleh pengetahuan yang benar sehingga secara perlahan-lahan mereka akan mandiri dalam menggunakan IPTEK yang semakin berkembang pada masa kini.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.