oleh

Cerpen | Nenek Susu Panjang

-Berita-278 Dilihat

Ket Foto. Ilustrasi 

Oleh: Honing Alvianto Bana

SUARA TTS.COM | SOE – Siang itu ketika pulang sekolah, kami berjalan sambil menendang-nendang rumput ditepi jalan. Tinus memegang sepotong kayu kering sebesar ibu jari. Matanya memperhatikan rumput-rumput disepanjang jalan. Celana olah raga-nya melorot ke bawah, membuat belahan pantatnya hampir kelihatan.

Hari itu adalah hari jumat. Di Sekolah kami, setiap siswa wajib menggunakan pakian olah raga. Celananya berwarna hijau, sedangkan bajunya berwarna kuning – mirip warna partai penguasa saat orde baru itu.

“Jangan tendang lagi, Enos. Kau membuat mereka ketakutan.”

Tinus berjongkok dan memukul sebuah batu sebesar kepala bayi. Seekor belalang melompat ke celah semak-semak.

Ada banyak potongan kayu kering berserakan di tepi jalan ini. Tinus mengambil salah satunya, dan mulai memukul rerumputan itu. Setiap ia menghantamkan kayu ke rumput, ingus kental mengalir dari hidungnya yang pesek.

Saya melihat sebatang pohon beringin terlentang ditepi jalan. Pohon itu dulunya sangat rimbun. Orang-orang suka berteduh dibawahnya ketika pulang dari pasar. Mungkin ada yang ingin membangun rumah ditempat itu.

Sebagian tanah disini memang sudah di jual oleh pemiliknya. Dulu tanah disekitar sini milik Pak lurah. Namanya Pe’u Peoboko. Orangnya sangat jahat. Jika marah, wajahnya mirip Firaun. Kata Tinus, Pak lurah membutuhkan uang untuk anaknya yang sedang bersekolah di jawa. Sebab itulah, Pak lurah menjual sebagian tanahnya.

Kami berjalan menuruni bukit dan melewati jalan setapak, sebelum akhirnya menyebrangi sungai. Rumah dan sekolah kami memang dipisahkan oleh sebuah sungai dan bukit.

Saya melihat seekor sapi mencoba menyeberang sungai. “Itu sapi-nya Om Taosu,” teriak saya. Saya mengenal cap dipunggungnya. Sebetulnya saya ingin berjalan lebih cepat untuk memberi tahu Om Taosu bahwa sapinya sedang terlepas. Tapi kata Tinus, tidak usah. Kita harus mandi dulu di kolam sebelum pulang ke rumah.

Tinus bilang kolam itu tak begitu dalam. Sangat cocok buat anak seumuran kami. Kalau kami langsung pulang hanya untuk memberi tahu Om Taosu, nanti kami tak bisa kembali lagi.

“Sapi itu tidak akan nyasar, Enos . Sapi akan kembali ke kandangnya. Mereka sama seperti manusia yang akan kembali ke rumah,” kata Tinus dengan begitu meyakinkan.

Saya dan teman-teman memang suka bermain dan berenang di sungai. Saya belajar berenang dari Tinus. Dia pandai sekali berenang. Di kampung saya, kalau kau belum bisa berenang, kau tak ada harga diri. Kau akan di ejek seperti Alfret -bencong yang punya banyak teman perempuan itu. Tinus juga yang mengajari saya cara menyelam didasar kolam. Tak jarang kami bertanding siapa yang bisa menahan napas paling lama. Tapi itu kami lakukan diam-diam.

Suatu hari, ketika pulang sekolah, kami mandi hingga sore hari. Ibu cemas ketika saya belum juga pulang. Saat kembali, saya dipukul dengan ranting lamtoro. Rasanya sakit sekali. Pantat dan kaki saya seperti sedang ditato sarang laba-laba.

Sejak saat itu, ibu lalu bercerita, di sungai itu ada penunggu-nya, Nenek susu panjang[1]namanya. Ia suka menangkap anak-anak. Matanya merah. Kukunya panjang. Susu-nya tergantung seperti buah alpukat. Rambutnya mirip rambutnya tanta Takaeb. Ia tinggal di gua peninggalan Belanda didekat sungai. Sepuluh tahun yang lalu, ada seorang anak laki-laki hilang. Lima hari kemudian mayatnya yang pucat dan kembung mengapung seperti batang pisang di kolam itu.

Kau tahu Nenek susu panjang, Tinus?”

Tinus menggeleng dan terus berjalan. Kuku-nya panjang. Mata-nya merah. Mirip mata-nya Om Uskono yang suka minum sopi[2]tu. “Kata ibu saya, ia tinggal di gua disekitar jembatan itu.” Saya menyuruhnya melihat ke arah gua didekat jembatan. “Kadang-kadang ia turun ke sungai. Ketika ia bertemu dengan anak-anak, ia akan menangkap dan membenamkan tubuh kita ke dalam kolam. Waktu napas sudah habis, baru tubuh kita dilepas.”

Tinus melihat ke arah gua, “Tapi saya sering menangkap kelelawar bersama Yapi Taklale di gua itu. Tidak ada Nenek susu panjang disana.” Ia mengelap ingusnya. Bulir-bulir keringat keluar di tengkuknya.

Dari kejauhan tampak pohon-pohon yang rimbun seperti rambut Nenek Bet. Ibu bilang, di pohon-pohon itulah para suanggi[3] itu tinggal. Mereka menyatu dengan pohon-pohon tua yang besar. Para suanggi itu kemudian menguasai setiap jengkal sungai yang mengalir. Mereka bersembunyi di balik air yang tenang. Tangan-tangannya menjulur panjang seperti selendang raksasa.

***

Semalam hujan turun deras sekali. Berbantalkan lengan, saya berbaring di kamar sambil memperhatikan tetes air hujan jatuh melalui atap rumah yang bocor. Saya telah menaruh ember bekas dan mendengar bunyi air jatuh seperti suara detak jarum jam.

Ketika dingin mulai mencucuk tulang, saya menarik selimut. Dan saya mulai bermimpi lagi tentang Nenek susu panjang. Dalam mimpi, Nenek susu panjang itu tidak memakai baju. Puting susu-nya hampir menyentuh pinggang. Rambutnya kelihatan putih. Ia berdiri didekat jendela kamar saya. Ia memanggil saya dengan begitu lembut. “mari sini….” Saya tidur dengan tubuh bergetar. Saya menutup mata dengan kedua tangan sambil menangis. Sesekali saya mengucapkan doa “bapa kami”, doa yang sering diajarkan oleh Kakak Mia-guru sekolah minggu saya.

Bludoor..bludoor. Bunyi guntur tiba-tiba membuat saya terjaga. Saya tidak dapat melihat apa-apa. Semuanya gelap seperti arang. Saya masih mendengar suara hujan yang mulai sedikit reda. Lalu di sela-sela itu, telinga saya menangkap suara yang aneh lagi. Saya mendengar suara orang melangkah. Sesekali menghilang, lalu muncul lagi.

Saya takut sekali. Saya menutup telinga. Seekor tikus menyelinap masuk ke dalam selimut saya dan ikut bersembunyi di sana.

“Tidak ada suara apa-apa, Enos. Ibu tidak mendengar suara apa-apa. Kau diganggu Nenek susu panjang itu. Nenek susu panjang akan menyelinap dan mengganggu anak-anak yang nakal.”

Ibu tak mendengar suara itu. Tak ada yang mendengar suara itu, kecuali saya sendiri. Biasanya, agar tidak teringat pada suara-suara itu lagi, saya selalu meninggalkan ibu dan berlari keluar menuju rumah Tinus.

***

“Ssst, diam!” Tinus memberi aba-aba dengan jari telunjuk di depan mulutnya. Ia lalu melihat kearah pepohonan.

“ Tolong pegang ini!” Tinus menyeka keringat dengan lengan kirinya. Ia lalu mengambil dua buah batu sebesar bola pimpong. Ia seperti tak mendengar apa yang saya katakan tentang Nenek susu panjang. Ia kemudian melempar burung-burung pipit dibalik ranting-ranting pohon kaliender.

Tampak awan bergerak pelan seperti kapas. Seekor elang berputar-putar dan sesekali melengking. “Kolam di sana tak begitu dalam. Kemarin hanya setinggi lutut, tapi sudah saya halangi aliran sungai itu dengan batu-batu yang saya ambil ditepi sungai. Sekarang sudah mencapai dada” Saya berjalan mengikuti Tinus dari belakang. Ia meninggalkan jejak kakinya yang kurus. Tinus tidak memakai sepatu. Ia memang telah melepas dan menggantungkan sepatu dilehernya sejak kami mulai menyusuri sungai.

“Kalau Nenek susu panjang ada, kenapa ia tak menangkap saya?” Tinus menyergah ingusnya.

“Mungkin kau belum pernah bertemu dengannya, Tinus.”

“Tidak. Saya sudah berulang kali mandi disana. Tidak ada apa-apa, Enos.”

Saat mendekati kolam, tiba-tiba Tinus meminta saya untuk berhenti. “Diam!”, Tinus menyuruh saya melihat kearah semak-semak. “Seperti ada orang dibalik pohon-pohon itu,” bisik Tinus. Saya ketakutan. Napas saya tertahan di tenggorokan. Tiba-tiba Tinus tertawa dengan sangat puas.

“Haha…itu bukan Nenek susu panjang! Itu sapi milik kakek Amle’ut ”, ia memang suka mengikat sapi dibalik pepohonan itu.

Tinus kemudian membuka baju dan berlari menuruni bebatuan. Ia lalu membuka celana dan terjun ke kolam. Kemudian ia mengangkat kepala dari dalam air dan berkata dengan terengah-engah.

“Tidak ada Nenek susu panjang, Enos. Ayolah….”

Tinus menyelam dan berenang. Ia mengepak-ngepakkan air dengan kedua kakinya. Sudah lama saya tidak mandi di sungai ini. Hampir setengah jam Tinus berenang dan tidak terjadi apa-apa. Saya tak kuasa menahan dorongan untuk mandi. Dingin akhirnya merambat ke seluruh tubuh saya. Dalam beberapa menit, saya mendapati tubuh saya sudah berada di dalam air.

Kami berenang berdua. Tinus memercikkan air ke wajah saya. Saya membalas memercik ke wajahnya. Kami tertawa cekikikan.

“Di sini Nenek susu panjang pernah menangkap anak-anak.” Sekilas dalam pikiran saya berkelibat cerita ibu bahwa Nenek susu panjang menarik kaki terlebih dulu, kemudian membenamkan tubuh dan baru melepasnya sampai dua atau tiga jam kemudian. Tapi saya tidak merasakan apa-apa. Tidak ada yang menarik kaki saya. Tidak ada nenek susu panjang. Ibu sengaja menakuti agar saya tidak bermain di sungai.

Tinus lalu mengajak melakukan hal yang sudah lama tidak kami lakukan: siapa yang paling lama bisa menahan nafas dalam air. Sementara saya menyelam, Tinus memperhatikan sambil berhitung dalam hitungan detik. Dan ketika saya mencoba menyelam, di bawah sana saya melihat sesuatu.

“Ada sesuatu di bawah sini!”

“Ada apa?” Tinus berenang ke arah saya dan mulai menyelam.

Saya keluar dari kolam dengan tubuh gemetar. Beberapa menit kemudian saya melihat gelembung-gelembung udara bermunculan di atas permukaan air. Sudah hampir 1 jam Tinus tak muncul ke permukaan. Saya semakin ketakutan. Kepala saya terasa berat. Detak jantung saya semakin tak beraturan. Seperti sedang disuruh mengerjakan tugas matematika oleh Pak Hala, guru terjahat disekolah kami.

Tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh mengapung disudut kolam. Saya semakin ketakutan. Saya melihat kearah kiri dan kanan sebelum mendekat. Saya seperti mengenal sosok itu, perutnya mengembung seperti perempuan yang sedang hamil 7 bulan. Saya terkejut, ternyata Tinus telah mati tenggelam.

Saya menengadah ke langit. Berusaha menahan air mata. Kerongkongan saya seperti tercekik. Dada saya sesak sekali. Air mata tak sanggup lagi saya tahan. Saya menangis sambil memukul-mukul tanah.

Saya kembali teringat cerita ibu. Nenek susu panjang ternyata ada. Ia ada didasar kolam ini. Ia lah yang menarik Tinus hingga kehabisan napas. Tinus mati sebelum mengikuti ujian nasional.

Keterangan:

1. Nenek susu panjang: Sosok setan yang sering di gunakan untuk menakuti anak-anak di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

2. Sopi: Arak tradisional orang Timor.

3. Suanggi: Roh jahat yang dipercaya suka mengembara untuk memangsa manusia.

Honing Alvianto Bana. Lahir di Kota Soe – NTT. Saat ini sedang aktif di komunitas paloli TTS dan pemuda gereja GBKN.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.