oleh

BERANI MEMAAFKAN

-Berita, Opini-294 Dilihat

( oleh : Romo Johannes Tnomel, Pr)

SUARA TTS.COM| SOE- Kapan kamu terakhir memaafkan teman, sahabat keluarga atau orang yang berbuat salah kepadamu? Mungkin sudah lama, mungkin baru kemarin atau mungkin juga kamu belum sempat memaafkan seseorang pun dalam hidupmu. Semuanya tergantung pada pengalaman setiap pribadi. Ada orang yang mudah untuk memaafkan tetapi ada juga orang yang sulit untuk memaafkan. Berbicara tentang memaafkan atau mengampuni terasa mudah, namun ternyata bila kita berada dalam kasus-kasus tertentu acapkali menjadi sulit untuk dilaksanakan. Kata maaf, ampun akhirnya menjadi kata tersulit dalam kamus hidup kita. Luka yang dalam oleh karena konflik pada akhirnya menjadi persoalan yang dibawa mati, tidak ada kesempatan terjadinya rekonsiliasi. Pengalaman ini bahkan berlaku juga bagi orang terdekat dalam hidup kita, sahabat, kakak, adik, juga orang tua kandung. Akibatnya hubungan antar anggota keluarga menjadi renggang bahkan tidak akur. Ada juga yang setelah melalui proses yang panjang berikhtiar untuk memaafkan namun itupun tidak dengan hati yang tulus, hubungan yang terjadi selanjutnya pun tidak seperti yang dulu. Orang bisa jadi merasa takut untuk dilukai, merasa cemas bila harus membangun kembali relasi kalau pada ujungnya akan tersakiti lagi. Ini adalah pilihan-pilihan yang cukup sulit di dalam hidup namun setiap orag punya daya tahannya sendiri, punya karakter tersendiri sehingga sikap terhadap persoalan atau masalah yang dihadapi berbeda-beda.

* Tidak Mampu Memaafkan

Ada satu pengalaman yang memang cukup membekas dalam diri saya ketika berhadapan dengan persoalan ini. Pada waktu Frater saya bersama teman-teman pernah diajak untuk mengikuti misa perdamaian keluarga. Imam yang mengajak kami bercerita bahwa perselisihan yang terjadi di antara keluarga ini sudah berlangsung tujuh tahun. Dalam waktu yang cukup lama ini mereka akhirnya menyadari bahwa konflik di dalam keluarga sama sekali tidak menghasilkan apapun. Ada banyak urusan keluarga yang tidak terselesaikan karena konflik yang terjadi. Selain itu hubungan yang renggang mengakibatkan komunikasi tidak berjalan baik. Simbol perdamaian mereka ditandai lewat perayaan Ekaristi. Mereka bersyukur sudah bersatu, mereka bersyukur atas persatuan yang kembali terjadi untuk keluarga mereka. Kami mejadi saksi atas peristiwa syukur pada malam itu. Hal ini menjadi moment yang tak terlupakan. Ternyata menjaga persatuan tidaklah mudah. Suasana damai memang terlihat seperti gelas yang cantik namun ketika pecah sulit untuk disusun kembali. Butuh tujuh tahun bagi keluarga ini untuk bisa membangun kembali hubungan yang harmonis. Keterbukaan hati menjadi kunci bagi setiap orang untuk bisa menerima kembali sesama yang bersalah.
Ada banyak hal yang membuat orang sulit memaafkan:
Pertama: Emosi yang masih menguasai diri kita. Karakter manusia berbeda-beda, tentunya. Ada orang yang begitu mudah melupakan amarah namun ada yang sulit untuk melupakannya. Emosi yang berlebihan membuat orang sulit untuk melupakan kesalahan sesama. Akibatnya orang menjadi sukar untuk memaafkan sesama. Orang tidak mampu mengambil jarak, berpikir positif kepada sesama ataupun masalah yang dihadapi. Akibatnya keputusan untuk memaafkan terlampau sulit. Keputusan untuk memaafkan akan semakin sulit manakala orang tidak membangun pola pikir yang jernih, orang tidak membangun pikiran positif di dalam dirinya.
Kedua: Merasa terlalu lemah jika harus memaafkan.
Seringkali pikiran merasa lemah karena harus memaafkan orang lain menguasai pikiran kita. Apalagi itu didukung dengan power yang dimiliki. Kita merasa ada yang kurang di dalam diri jika harus memaaafkan sesama, kita merasa bahwa pemberiaan maaf akan menurunkan harga diri kita sendiri. Posisi berpikir inilah yang akhirnya membuat kita semakin sulit untuk harus mengampuni sesama. Padahal seyogyanya kalau kita berani melepas beban pikiran demikian maka ada ruang untuk berpikir jernih sehingga kita tidak cepat memberikan penilaian yang negatif terhadap keputusan memaafkan yang akan kita buat.
Ketiga : Takut Kesalahan Yang Sama Akan Terulang Jika Cepat Memaafkan.
Orang menjadi sulit memaafkan karena ada kecemasan di dalam dirinya bahwa suatu hari ia akan tersakiti kembali oleh perbuatan yang sama. Pilihan untuk memaafkan menjadi kabur karena ada sebuah katakutan baru bahwa kesalahan yang sama akan terulang. Hal ini semakin kuat jika didukung dengan pengalaman bahwa hal ini sering terjadi. Orang berprinsip untuk apa memaafkan jika toh akhirnya orang yang dimaafkan tidak sadar dan melakukan kesalahan yang sama lagi. Jadi ada syarat dalam memaafkan, ada kondisi yang yang membuat orang takut untuk memberi maaf.
Keempat : Rasa sakit yang terlalu dalam.
Orang sulit memaafkan karena dia mengalami perbuatan yang dilakukan oleh orang lain menyisakan rasa sakit yang terlalu dalam. Ada persoalan-persoalan yang memang meninggalkan luka yang berkepanjangan. Orang menjadi sangat sakit hati, merasa hidupnya begitu dihina dan harga dirinya hancur. Inilah yang pada akhirnya membuat orang sulit untuk memaafkan, jangankan memaafkan berpikir tentang orang yang berbuat salah terhadap dirinya saja sudah sangat memuakkan.

* Kekuatan Pengampunan

Banyak inspirasi yang dapat kita peroleh dari pilihan sikap mengampuni. Salah satu tokoh dunia yang sangat inspiratif bagi kita terkait dengan sikap mengmpuni adalah Nelson Mandela. Nelson Mandela adalah Tokoh pejuang kulit hitam yang terkenal dari Afrika. Nelson Mandela terlahir dari keluarga Thembu dan bersuku Xhosa. Nelson Mandela sejak kecil dikenal memiliki semangat mencari tahu yang tinggi. Nelson Mandela muda bertumbuh menjadi seorang aktivis yang terkenal. Ia bergabung dengan Kongres Nasiona Afrika (ANC). Lewat organisasi inilah dia dan teman-temannya berjuang keras menentang politik apartheid yang terjadi di Afrika Selatan. Nelson Mandela kemudian dipenjara. Pada 1962, ia ditahan dan dituduh melakukan sabotase dan bersekongkol menggulingkan pemerintahan, dan dihukum penjara seumur hidup di Pengadilan Rivonia. Mandela menjalani masa kurungan 27 tahun, pertama di Pulau Robben, kemudian di Penjara Pollsmoor dan Penjara Victor Verster. Di dalam penjara Nelson Mandela tetap memperjuangkan kemerdekaaan Bangsa Afrika dari Politik Apartheid. Atas tekanan dunia internasional Mandela dibebaskan dari penjara. Pemilu demokratis yang diselenggarakan pada 27 April 1994 menetapkan Nelson Mandela sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan. Dia dilantik pada tanggal 10 Mei 1994 dan masa jabatan Mandela berlangsung selama kurang lebih 5 tahun (Mei 1994 – Juni 1999). Waktu menjabat sebagai Presiden masyarakat dunia menyangka bahwa Nelson Mandela akan melakukan pembalasan atas perlakuan bangsa kulit putih terhadap bangsanya. Sebaliknya Ia justru memaaafkan bangsa kulit putih dan mengajak mereka bersama membangun Bangsa Afrika Selatan yang bebas dari politik Apartheid. Kekuatan pengampunan inilah yang membut Afrika Selatan menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera di antara negara-negara Afrika lainnya. Negara ini bahkan mampu menyelenggarakan event besar Piala Dunia 2010. Seandainya dulu Nelson Mandela memilih balas dendam, gigi ganti gigi, mata ganti mata, niscaya perang akan terus berkecamuk dan kemajuan sulit diusahakan. Ada satu kisah yang menarik tentang hal ini. Sipir dalam penjara sering menyiksa Nelson Mandela, bahkan hal yang tak akan dilupakan Mandela ialah ketika ia disiksa dengan cara digantung terbalik sambil dikencingi oleh sipir tersebut. Mandela menyimpan perkara ini di dalam hatinya. Tetapi ketika Mandela dibebaskan dan kemudian terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan, ia menyuruh ajudannya membawa sipir penjara yang sering menyiksanya tersebut ke hadapan Mandela. Sipir tersebut sangat ketakutan, ia berpikir Mandela akan membalas dendam dengan menghukum balik dirinya. Tetapi apa yang terjadi, tidak demikian pilihan Mandela. Dengan tulus, Mandela justru memaafkan dan mengampuni sipir penjara tersebut. Ia memeluk sipir tersebut sambil bekata “ hal pertama yang kulakukan ketika menjadi Presiden adalah memaafkanmu”.
Kekuatan pengampunan sungguh sangat dahsyat. Kita tidak bisa menafikan bahwa untuk memaafkan orang lain butuh kekuatan yang besar dari dalam diri. Hanya pribadi yang kuat, pribadi yang telah memenangkan pertandingan dalam dirinya sendiri, dialah yang mampu menjadi pribadi pemaaf, pribadi yang mengampuni. Injil Matius 18;21-22, mengisahkan tentang pertanyaan Yesus kepada Petrus tentang mengampuni. “ Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus. “ Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa kepadaku? Sampai tujuh kali ?. Yesus berkata bukan! Bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Makna pengampunan tentu bukan hanya soal jumlah tetapi soal totalitas mengampuni, mengampuni dengan sepenuh hati. Hal ini tentu tidak mudah namun sebagai orang beriman kita bukan saja memiliki tanggung jawab moral tetapi juga tanggung jawab iman kepada Kristus Tuhan yang mengajarkan kepada kita tentang pengampunan ketika ia mengampuni prajurit yang menyiksanya dengan berkata “ Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” ( Luk, 23:34). Marilah berjuang menjadi pribadi yang mengampuni. Pilihan ini terasa berat ketika dipikirkan, namun jika diterima dan dijalani dengan sukacita, akan membawa ketenangan dalam hati dan pikiran pun membangun kembali relasi yang mungkin hampir patah dan terkulai.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.