oleh

BAHAGIA ITU SEDERHANA

-Berita, Opini-422 Dilihat

Oleh Rm. Johannes Antonius Tnomel, Pr, S.Fil

SUARA TTS.COM.

 Teman angkatan saya Romo (Rm) Eki membalas WA ku terkait rencana kedatangannya ke Stasi Lobus. Rm Eki akan bertugas bersama Rm Primus di tempat ini. Aku kemudian menghubungi Rm Melki dan Rm Jimi untuk turut menyambut Rm Eki di Lobus. Saya, Rm Melki dan Rm Jimi bersepakat untuk ke sekolah terlebih dulu. Jam 11.00 WITA baru kami keluar dari Paroki Aryos Niki-Niki. Diskusi hangat berlangsung di antara kami namun umumnya bertema pelayanan Imamat.

Kondisi jalan di sepanjang wilayah Kecamatan Amanuban Timur hingga Kecamatan Amanatun Utara semakin baik. Aku coba membandingkanya dengan kondisi 9 tahun yang lalu saat aku masih frater TOP di Paroki Aryos Niki-Niki, sudah banyak berubah. Hal ini tentu sangat membantu lalu lintas warga dari wilayah Amanuban ataupun Amanatun Utara ke SoE, ibu kota Kabupaten TTS.

Rm Patris Tampani menyambut kami di Put‘ain dengan hidangan siang yang nikmat. Satu ekor ayam panggang sudah tersedia di meja makan. Kami memilih singgah di Puta‘in karena sudah cukup lama kami tidak pernah ke Paroki ini. Rm Patris sendiri sudah berkarya 5 tahun di Paroki Putain. Rm Patris banyak menyeringkan kegiatan pastoralnya. Saya melihat bahwa Rm Patris sangat bahagia di tempat ini. Saya tahu bahwa secara manusiawi banyak kekurangan yang dirasakan Rm Patris namun hal itu sama sekali tidak mengganggu karya pelayanannya. Ia tetap berkarya dengan penuh semangat dan pemberian diri yang total. Umat yang dilayani kebanyakan adalah petani tradisional, jadi memang seorang Imam harus punya banyak cara untuk menggerakkan pastoral. Saya menyaksikan bahwa Rm Patris banyak berbuat di tempat ini. Ia seorang pekerja keras. Imam yang setia melayani meski memiliki medan pastoral yang cukup sulit. Kami tiba di Lobus pukul 17.00 WITA. Situasi di Lobus tidaklah jauh berbeda dengan Put‘ain. Umat yang menyambut kami adalah umat sederhana. Kebahagiaan nampak dalam wajah umat di Stasi Lobus menyambut Imam Baru mereka.Rm Rudi bersama umat Paroki Asumpta juga turut mengantar Rm Eki. Sebuah tanda persaudaraan yang nyata di tengah para Imam. Kondisi umat yang berbeda antara di Kupang dan di Lobus jelas memberikan kesempatan kepada Rm Eki untuk beradaptasi sebelum akhirnya mengambil keputusan apapun demi sebuah pelayanan. Yang jelas Sabda Tuhan ” Aku menyertai kamu hingga akhir zaman” menjadi Sabda yang menguatkan selalu. Bahagia dalam karya menjadi satu spirit dalam karya pelayanan di manapun dan kapanpun.

* Mengejar Kebahagiaan 

Saya sepakat dengan kata-kata itu bahwa bahagia itu sederhana. Acapkali di dalam kehidupan kita menemukan banyak orang yang mengejar kebahagian. Orang mencari-cari kebahagian hingga akhirnya dia merasa capai sendiri terhadap upayanya itu. Kebahagiaan padahal hadir di dalam lingkaran kehidupannya sendiri. Kebahagiaan hadir dalam keluarga yang damai, persahabatan yang sejati, tempat kerja yang kondusif, kebersamaan di dalam keluarga, gereja maupun masyarakat. Dalam situasi-situasi yang sederhana, situasi-situasi yang biasa inilah nilai kebahagiaan itu hadir. Acapkali orang mengindentikkan kebahagiaan itu sebagai sesuatu yang bersifat material, sesuatu yang bersifat hedonis. Walaupun pada akhirnya orang menyadari bahwa hal ini pun tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Misalnya orang berpikir kalau ia memiliki uang yang banyak atau rumah yang megah baru ia dikatakan bahagia. Kebahagiaan itu memang mungkin dirasakan namun tidak bertahan lama. Kebahagiaan itu seperti gelembung-gelembung sabun yang indah berwarna-warni namun tidak bertahan lama, pada akhirnya gelembung-gelembung itu akan pecah dan lenyaplah sudah. Jika kita bersandar pada model kebahagiaan seperti itu maka kita sama seperti orang yang membangun rumah di atas pasir. Yesus berkata “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya“ (Matius7:24-27)

 Saya teringat satu kisah tentang seorang pemuda yang ingin mencari kebahagiaan. Ia berkelana dari satu tempat yang lain. Dia sedang mencari di mana kebahagiaan berada. Sayangnya, kebahagiaan yang dicari tak kunjung ditemukan.

Saat dia merenungkan segala yang dialami dan dijalani selama hidupnya, tiba-tiba seorang kakek datang memecah kesunyian. “Sedang apa kau di sini nak?” Tanya sang kakek.

“Aku lelah, kek. Sudah ke sana ke mari tapi aku tak tahu kenapa tidak menemukan kebahagiaan.” Jawab si pemuda.

Mendengar jawaban si pemuda, sang kakek menyarankannya untuk pergi ke taman lalu menangkap seekor kupu-kupu yang cantik.

Tanpa pikir panjang sang pemuda pun langsung menuju taman dan mencari seekor kupu-kupu cantik. Beberapa jam kemudian,  seekor kupu-kupu yang cantik terlihat di pelupuk mata si pemuda.  Segala upaya dikerahkan demi menangkap kupu-kupu. Mulai dari mengendap-endap di semak, menangkap menggunakan jaring, sampai pemuda itu tak memedulikan taman rusak karenanya.  Melihat cara penangkapan kupu-kupu, sang kakek akhirnya bertanya “ Begitukah caramu mencari kebahagiaan? Berlari ke sana ke mari tak tentu arah, bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan.”

“Ketahuilah nak, mencari kebahagiaan layaknya mencari kupu-kupu. Cukup kau nikmati saja kecantikannya, warnanya, dan biarkan ia memenuhi semesta sesuai fungsinya.”

Mendengar hal itu si pemuda langsung terdiam, ia mulai paham apa arti bahagia sebenarnya. Kebahagiaan takkan kemana-mana, namun ada di mana-mana.

“Terima kasih kek, engkau telah menyadarkanku apa itu bahagia sebenarnya.” Ungkap si pemuda.

 Mengejar kebahagiaan tidak harus dengan memakai standar-standar duniawi yang tinggi ataupun menerapkannya sesuai dengan apa yang menjadi anjuran oran lain. Kebahagiaan didapat di dalam karya, dalam pelayanan kita sehari-hari. Kita memberikan diri secara total untuk satu pekerjaan. Karena itu kebahagiaan tidak pernah menjadi sebuah kata benda tetapi kata kerja di mana kebahagiaan berproses dalam setiap karya apapun yang dilaksanakan. Kalau kita berusaha mengejar kebahagiaan apalagi mengomprasikan kebahagiaan kita dengan orang lain maka pertanyaan tentang kebahagiaan tidak pernah selesai, kita seolah-olah berlari namun tidak pernah berhenti, kita seolah-olah mengejar sesuatu namun kita bingung dengan apa yang kita kejar. Akhirnya kita tidak pernah memiliki tujuan yang sejati dalam kehidupan karena kita tidak memiliki dasar yang tetap, pilihan yang terbaik tentang apa yang kita kejar.

*Bahagia Menjadi Anak-anak Allah

Di atas kebahagiaan yang kita kejar, satu hal yang patut kita syukuri ialah bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Tuhan kita Yesus Kristus telah menebus kita dari dosa dan mengangkat kita menjadi anak-anakNya. Inilah suatu kebahagiaan terbesar yang kita miliki. Kita berbahagia karena kita yang adalah pendosa telah ditebus oleh Tuhan dari dosa sehingga kita menjadi anak-anakNya. Hal ini membawa sukacita bagi kita. Kenyataan ini memberikan kita jaminan bahwa perjalanan kehidupan kita di dunia tidak berakhir dengan sia-sia tetapi punya tujuan yang pasti. Tujuan itu adalah Kristus yang adalah alfa dan omega kehidupan kita. Surat St Paulus kepada Jemaat Timotius ( 2 Tim, 4:7-8) memberikan kita satu kekuatan “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya“. Menjadi bahagia berarti dekat dengan Tuhan karena hanya dalam Allahlah Aku tenang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.