oleh

Antara Buku dan Desa 

-Berita, Opini-152 Dilihat

Oleh: Honing Alvianto Bana

SUARA TTS.COM | SOE – Orang mulai membaca buku dengan bermacam-macam cara. Saya memulainya ketika semester dua di sebuah kota di Jawa Timur. Saya masih ingat, saat itu gerimis di musim dingin sedang melingkupi kota Malang. Saya saat itu berada di Malang untuk melanjutkan study di jurusan psikologi.

Di dalam kamar kos, di hadapan jendela lebar, saya sudah duduk cukup lama untuk merasa bosan dengan hanya menikmati secangkir kopi. Teman-teman kos saya entah pergi ke mana, saya sudah lupa. Dari atas tempat tidur, saya meraih remote control, menyalakan televisi—kebiasaan saya di kampung halaman. Tak ada acara menarik.

Saya memutuskan mematikan televisi dan mulai melihat sejumlah buku di sebuah rak buku. Saya memang sejak semester satu suka membeli buku, meski tak pernah saya baca.

Buku Madilog, karya Tan Malaka saya cabut dari rak. Saya sudah membeli buku ini sejak semester satu; tapi tak pernah sekalipun saya membaca buku ini. Bersama buku biografi Sigmund freud seorang tokoh psikologi, saya lalu kembali ke tempat tidur untuk memulai membaca.

Sejak itu saya tak pernah lama berjauhan dari buku. Dari buku Madilog itu saya melompat ke buku-buku psikologi lainnya. Demikian sampai saya didera bosan, lalu berbelok ke kajian budaya, sejarah, sastra, ekonomi politik, lalu pembangunan.

Membaca mengubah hidup saya. Kebiasaan baru ini membuat saya menjadi lebih sedikit bergaul, bepergian, dan menonton televisi. Pelan-pelan saya kehilangan keterampilan yang dibutuhkan semua hobi itu. Cara saya melihat dunia juga ikut berubah.

Perubahan ini tidak selalu baik buat saya, dan mungkin orang-orang di sekitar saya. Membaca memungkinkan seseorang mengetahui banyak informasi dan berbagai cara melihat kenyataan, dan itu membuat saya semakin jarang bersetuju dengan pendapat umum. Bahkan, bisa membuat saya bermusuhan—meski seringkali dengan cara diam-diam.

Penyakit ini mencapai puncaknya ketika saya hanya membaca dan semakin jarang bersentuhan dengan kenyataan sehari-hari. Saya seakan menjadi sosok yang anti banyak hal, bahkan bisa dibilang sok tahu. Apapun yang dilakukan orang di sekitar saya selalu salah. Bagi saya, semua yang dilakukan orang lain bermasalah sebab mereka tidak melakukannya seperti yang saya baca di buku-buku.

Bacaan-bacaan kritis pun membuat saya semakin tertekan, karena sepertinya masalah yang mereka bentangkan tak punya solusi, atau solusinya berada di luar jangkauan saya.

Kebiasaan membaca itu berlanjut sampai saat saya melanjutkan study magister di Surabaya. Semua itu seakan membuat saya berpikir, satu-satunya hal yang benar adalah apa yang saya lakukan, yang pada kenyataannya hanya membaca, cuma membaca.

Persis di titik itulah saya diselamatkan oleh desa. Pada saat selesai study dan pada saat-saat kritis itu saya kembali ke kampung halaman dan bergabung dengan sebuah komunitas masyarakat adat yang mengharuskan saya bepergian ke desa secara teratur. Di sana saya berjumpa orang-orang, para petani, peternak, mama-mama penjual pinang, pemuda desa, guru dan lainnya.

Di sana saya bertemu masalah nyata yang mereka hadapi. Di sana saya melihat dan mendengar pengetahuan mereka, dan bagaimana mereka memakainya demi menghadapi masalah keseharian.

Desa akhirnya membuka mata saya. Semua yang saya baca di buku tidak lain hanyalah kumpulan hipotesa yang masih perlu diuji di dunia nyata. Tulisan bukan kebenaran itu sendiri; bukan pula hipotesa yang hanya bisa dijawab oleh hipotesa tertulis lainnya. Manusia tidak hidup di alam teks, tapi di dunia nyata.

Desa meyakinkan saya bahwa pada awal dan akhirnya adalah dunia nyata, bukan kata tertulis. Buku-buku itu hanya membantu kita untuk melihatnya—kadang secara keliru..

Honing Alvianto Bana. Lahir di Soe – NTT. Saat ini sedang aktif di Komunitas Masyarakat Adat (Pokja OAT) dan Komunitas Paloli TTS.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.