oleh

77 Persen Dosen Mengaku Melihat Kekerasan Seksual Di Kampus

-Berita, Nasional-238 Dilihat

Ket Foto (Dok. Mendikbudristek) : Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim.

Laporan reporter SUARA TTS .Com

SUARA TTS .COM I SOE- Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengatakan, sejak awal dirinya masuk sebagai menteri sudah mendengar desas-desus terkait kekerasan seksual di dalam lingkungan pendidikan.

Setelah dirinya mengorek lebih jauh informasi tersebut, diketahui kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan seperti fenomena gunung es yang sangat dahsyat.

Dari hasil survei yang dilakukan pihaknya, diketahui 77 persen dosen telah melihat kekerasan seksual di dalam lingkungan kampusnya sendiri.

Dimana 65 kasus di antaranya tidak dilaporkan oleh korbannya dengan berbagai alasan.

“Dari awal saya masuk jadi menteri, saya sudah dengar terkait kasus kekerasan seksusal di lingkungan kampus. Dari hasil survey, 77 persen dosen mengaku pernah melihat kasus kekekerasan seksual terjadi di kampus. Ini yang kita survey baru dosennya saja, belum mahasiswanya,” ungkap Nadiem dalam podcast Deddy Corbuzier yang di-upload, Selasa 16 November 2021.

Hal inilah yang mendorong pihaknya mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Permebdikbudristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Dimana peraturan ini tidak hanya menekan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus, tetapi juga untuk melindungi para korban. “ Kita ada satgas khusus yang kerjanya memproses pengaduan korban kekerasan seksual di lingkungan kampus. Tugas satgas ini, selain melakukan Investigasi, melakukan koordinasi dengan pihak rektorat tetapi juga bias mendampingi korban hingga proses di kepolisian jika diperlukan,” terangnya

Artis Cinta Laura yang ikut hadir dalam podcast tersebut mendukung dikeluarkanya Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Permebdikbudristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Relugasi tersebut menurut cinta selain berpihak kepada korban kekerasan seksual, tetapi juga memberikan keberanian kepada korban untuk melaporkan kasus yang dialaminya.

“ Saya dukung regulasi tersebut karena berpihak kepada korban. Saya berharap dengan adanya regulasi tersebut bisa memberikan keberanian kepada para korban untuk melaporkan kasus kekerasaan seksual yang dialami,” tegas Cinta.

Menariknya menurut hasil riset yang dilakukan BBC lanjut Cinta, kasus kekerasan seksual terjadi bukan karena cara berpakaian korban yang seksi. Melainkan karena pelaku tidak mampu mengontrol cara berpikir atau presepsi mereka.

“ Menurut data BBC korban pelecahan seksual 18 persen menggunakan rok dan celana panjang, 14 persen korban menggunakan seragam sekolah, 16 persen menggunakan baju lengan panjang, 17 persen bahkan menggunakan hijab dan 14 persen korban lainnya menggunakan pakaian longgar.

Dari data ini bisa kita simpulkan kekerasan seksual terjadi bukan karena korban menggunakan pakaian yang seksi atau terbuka, melainkan karena pelaku yang tidak mampu mengontrol cara berpikir atau persepsinya,” terang Cinta. (DK)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.